| WaLkin' With You...
 
 
 
Copyright © WaLkin' With You...
Design by Dzignine
Sunday, February 21, 2021

Thirty Days of Lunch Podcast (TDOL) - Life At The Crossroad with Ivandeva

[7 menit baca and trust me, this is good and don't skip this!]

"Bosen dan ngerasa stuck banget nih, rasanya ga berkembang dan gitu-gitu aja!" kurang lebih itu percakapan melalui DM IG dengan salah salah senior kampusku ketika selesai berbasa-basi di sekitar awal-pertengahan 2019. Setelah update masing-masing secara sekilas tentang hidup dan lainnya dengan lumayan panjang, obrolan pun ditutup dengan dia membagikan link podcast (salah satu tools teknologi yang aku tahu tapi belum nyemplung di dalamnya), "Cobain deh dengerin, related seperti yang u lagi alamin!".

Awalnya rada males karena berarti harus install app baru dan regis2 gitu (males spam email yang sebenarnya bisa dimatiin di notifnya juga sih), tapi pas lagi di kantor dan nge-lunch akhirnya meniatkan diri untuk mendengar podcast ini tanpa tahu ini ngebahas apa, siapa, akan ke mana, dll. 5 menit pertama, dengerin suara Mas Ivan dengan tutur kata yang rapi, suara yang calming, dan sopan banget masuk ke telinga langsung membuatku berpikir, "Okay, i think this's gonna be good! i should give it a try!". Akhirnya terjadilah proses inisiatif untuk ngambil pen dan kertas untuk nyatet coretan (yap, sebagus itu isi podcastnya!), trus karena banyak distraksi, akhirnya ga konsen dan mutusin untuk lanjut denger di rumah.

Nyampe di rumah setelah beberes dan calming down, kembali dengerin dan kali ini sambil play-pause-rewind berkali-kali karena bela-belain nyimak-resapin-nyatet biar ga sia-sia dan bermanfaat buat aku. Akhirnya, setelah dengerin barusan untuk ke-4 kalinya, aku yang ga mulai-mulai untuk ngebagiin di blog (padahal uda janji dan sempet DM Ko Ruby juga, bahkan sempet dibales "didoaken"), akhirnya niatin diri juga untuk masukin ini ke blog. Why? Semua yang masuk ke blog ini berarti uda ninggalin impact buatku dan aku ingin kalian yang baca juga bisa ngerasain impactnya! So, here we go! Sit, relax, enjoy, and happy reading!

"Persimpangan itu kesempatan, tergantung cara kita mengelolanya, mau belok? Lurus?" 

"Bingung itu kesempatan untuk ngasi tau ada sesuatu yang belum selesai dengan diri kita sendiri, ada yang belum align/selaras."

 

Bingung, frustrasi, marah, kecewa, kesal adalah cara tidak nyaman dari luar diri kita yang ngasi tau kalo ada yang belum selesai/belum align/belum selaras dengan kita.

GILA! 2 kalimat pembukanya aja uda buat aku mikir, berapa banyak nih dari kita yang ngerasa salah/ga berguna/cengo/harus ngapain lagi yah kalau kita bingung? Sejenis MEH - Helaw - APA SIH - OH REALLY - SO TRUE!? Seolah-olah kita sebagai manusia harus jalan terus, jangan stop, bahkan ga boleh salah/ragu-ragu dengan apa pun yang saat ini sedang kita kerjakan, FEEL RELATE? Yuk lanjut!

Beliau bilang, "Persimpangan itu kesempatan dan pengingat, bahwa kayaknya saya mesti berubah". Ko Rub dan Mas Ario pun dibuat terpukau oleh padanan kalimat yang disampaikan dan bertanya terkait guidance apa yang bisa kita pegang ketika di persimpangan. 

Mas Ivan memberikan gambaran bahwa ketika di persimpangan, biarlah setiap kita makin selaras dengan diri sendiri melalui perjalanan dan proses tiada henti yang kalau disederhanakan terdapat 4 hal, yaitu :

1. Apa - Object of Fascination
Take a look to yourself, apa yang membuat kamu merasa ini tuh kamu banget! Bukan sekedar suka, tapi kamu bersedia untuk memahami apa yang kamu suka itu!

2.Upaya - Energizing Activities
Suatu kegiatan yang kalau kita lakukan, kita bukan bertambah lelah, tapi semakin bersemangat, bukan sekedar suka dilakukan tapi berkenan dan bersedia menjadi mahir, karena untuk menjadi mahir butuh waktu, latihan, pengorbanan, dsb.

Apa dan Upaya adalah fokus ke dalam diri kita sendiri! 

3. Siapa  
Orang-orang yang kita merasa nyaman sama mereka, yang kalo macet berjam-jam betah bersama mereka, komunitas kita, di mana kita berkenan mempersembahkan apa pun buat mereka. 

4. Agenda
Apa yang kita ingin tinggalkan atau apa yang kita ingin orang lain teruskan? Agenda penting yang walaupun kita telah selesai di hidup kita, kita masi butuh orang lain untuk melanjutkan agenda kita karena tidak pernah selesai. Kita ingin dikenang dan bangga menjadi bagian itu. Jika kita wafat, orang yang ketemu kita 3 hari/3 bulan/3 tahun lalu akan mempunyai omongan dan pandangan yang sama tentang kita.

Oke, sampai di sini dulu pemaparannya, seringkali kita dihadapkan pada keputusan apakah harus kerja yang gue mau tapi kurang menghasilkan/yang gue ga mau tapi menghasilkan? Mereka as hosts akhirnya mencoba untuk mencari contoh aplikatif dari kehidupan sehari-hari dengan kisah yang masuk ke email Ko Rub.

Case : Mr X adalah seorang lulusan arsitek yang bekerja di sebuah perusahaan keuangan dengan lingkungan yang toxic, dia ga suka karena rekan kerjanya hobi nge-GIBAH-in orang! Mr X digambarkan sebagai pribadi yang suka bola dan analisis statistik terkait bola, sempat buat start up, namun ga berkembang karena tidak ada yang mendanai. 

Yuk, mari kita bedah kasus Mr X dari 4 aspek yang disampaikan Mas Ivan di atas.
1. Apa -  X suka bola dan statistik

2. Upaya - Sempat menulis tentang analisa statistik bola, sempat juga buat start up tapi ga berkembang karena ga ada yang mendanai. 

3. Siapa - Passion X yang bisa ditranslasi menjadi manfaat, siapa yang bakal mendapatkan manfaat dari hal yang X buat? Bersama siapa mau mengerjakan hal ini? Siapa-nya belum ada untuk case ini; apakah orang-orang merasa mendapatkan manfaatnya? Karena kita perlu kerja sama dan ga akan bisa sendirian. 

4. Agenda - Kalau sudah selesai, agenda apa yang mau dia tinggalin, jika orang bisa dapet informasi dari dia, dia akhirnya menjadi bagian dari agenda apa? Dia perlu menetapkan dulu, tidak bisa ditemukan dalam konsep, dalam hal ini, GA BISA KONSEP DOANG, HARUS DIALAMI, LAKUKAN, DAN RASAKAN LANGSUNG. 

Kita pun menjadi bingung di antara pilihan PASSION or DUIT, namun Mas Ivan dengan brilian membawa kita ke dalam satu pemahaman baru, check it out! Kita TERLALU sering terjebak di TIRANI "OR"; kerjain yang biasa dan kita ga suka, tapi ngehasilin duit OR kerjain apa yang kita suka/passion kita, tapi belum tentu cukup untuk menghidupi kita. 

Mengapa kita tidak menggunakan the advantage of AND despite of OR? Kalau kita bener-bener lihat ke dalam diri kita, bukan ga mungkin lho kedua hal itu kita jalanin barengan; ada hal-hal yang harus kita kurangin agar kita bisa lakuin hal yang baru. Pertanyaannya: Apa yang kita mau kurangin? Ex: nonton sinetron apa? lunch gibah diganti jadi apa? Sebenarnya, ada hal yang bisa dikurangi/dieliminasi sehingga kita bisa punya waktu di hari kerja bahkan di hari bukan hari kerja untuk improve diri kita. 

Empat parameter di atas dapat menjadi hal/acuan yang bisa kita lakukan agar kita bisa semakin dekat dengan diri kita, sehingga saat kita ada di persimpangan/opsi, TIDAK AKAN susah bagi kita untuk tahu ini panggilan atau godaan. Kita perlu mengalami langsung, ga bisa pakai konsep/sekedar tulisan; kita harus mengasah keterampilan kita dan paling penting kita harus merasakan langsung! 

Nah, balik lagi ke case Mr X di atas; sebenarnya X ga perlu berhenti, tapi dia bisa curi-curi waktu untuk merasakan/mengalami langsung apa yang dia suka itu. Awalnya fokus 100% kerjaan, trus bagi jadi 90% - 10% untuk improve diri, lama-lama ambil cuti untuk mempertajam skill dia, maybe in the end setelah settle, dia bisa quit dan 100% jalanin passion dia? Who knows?

Yang mahal adalah saat mengalami dia harus benar-benar/sungguh-sungguh mengalami, bukan setengah-setengah, harus put effort, gagal-coba metode lain, coba meet audience lain, harus benar-benar mengenal kita, karena apa pun yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan apapun hasilnya, ketika kita flashback ke tempat yang lama, bisa aja kita jadi lebih mengapresiasi tempat lama kita. Yang aku tangkep di case ini adalah Mr X yang ga tahan sama lingkungan kerjanya, bahwa sejelek-jeleknya/sebenci-bencinya X sama tempat/kondisinya sekarang, masa sih ga ada hal positif yang bisa X ambil?

Mas Ivan said this, kadang kita ga suka lihat tempat kita sekarang karena kita belum pernah lihat tempat yang lain, pas kita uda lihat yang lain belum tentu suka yang lain, siapa tau malah lebih menghargai apa yang kita dapatkan. Cari alasan untuk stay daripada quit, tanya dulu tetangga untuk benchmark. Saat kita melakukan sesuatu harus sungguh-sungguh, ga bisa menggambarkan 1 ketidaksukaan menjadi seluruh ketidaksukaan. Apakah kita sudah bersungguh-sungguh dengan kesukaan kita yang lain, bukan sibuk dengan yang kita ga suka? Explore 1 paket tentang kerjaan kita sekarang.
Saturday, January 2, 2021

6 Pelajaran Kehidupan dari Film Soul

Happy New Year 2021 semuanya! Harapanku ga muluk-muluk untuk tahun ini, semoga balada COVID19 segera berlalu dan kita semua terus diberikan kesehatan dan kekuatan untuk menjalani tahun ini! Nah, untuk mengawali tahun 2021 ini, aku mau sharing sedikit tentang salah satu film Disney yang uda masuk bucketlist aku, yang termasuk aku nantikan penayangannya - SOUL. Berhubung pandemic, bioskop pun ikutan libur, kalopun buka, aku belum berani juga sih, too risky. 

Mengapa animasi? Mungkin ada yang berpikir ga menarik karena seperti film anak-anak, tapi aku emang suka sama karya-karya Disney dan Pixar. Pertama, karya mereka selalu berkesan dan ninggalin meaning di setiap film yang dibuat alias ga kaleng-kaleng, kamu akan selalu belajar sesuatu dari setiap film yang mereka buat. Kedua, dulu pernah kuliah dan ambil peminatan animasi, pernah ngerasain buat motion dari karakter diem sampe gerak 1 kaki (ya Lord, panjang bener langkahnya), karena tau susahnya mungkin aku jadi ikut ngerti dan menghargai seninya buat film animasi.

Well, coba sebutin film animasi apa yang berkesan buat kamu? Let me refresh - UP, Wall-E, Zootopia, dan Inside Out adalah salah 4 dari banyak karya mereka yang aku nikmatin sekaligus juga ikut ngebayangin susahnya buat animasi itu T.T

Nah, kali ini aku mau bahas tentang film SOUL yang baru aja dirilis untuk menyambut Natal, lagi-lagi as usual filmnya ga pernah lewat gitu aja, selalu ada hal baru tentang kehidupan yang bisa kamu pelajari. Kalau kamu belum nonton, better nonton dulu, baru balik ke sini untuk remind kembali tentang gregetnya si SOUL karena isinya mengandung SPOILER!

Sebelum share tentang apa yang aku dapetin dari film ini, izinkan aku share sedikit tentang latar belakang tokohnya biar kalian ga bingung bacanya. Kisah ini dimulai dengan Joe Gardner, seorang pianis jazz yang bercita-cita menjadi seorang musisi. Sayangnya, dia tidak menjalani apa yang dia suka dan malah menghabiskan waktunya sebagai guru musik di sebuah sekolah. 

Ketika sedang mengajar, dia dipanggil keluar kelas dan diberitahukan bahwa dia akan menjadi guru tetap dengan kenaikan gaji, pesangon, dan asuransi sebagai pegawai tetap tentunya. Nah, logikanya siapa pun akan bahagia ketika mendengar berita itu, namun dia malah terdiam. Lain halnya ketika dia mampir ke toko ibunya, ibu dan teman-temannya girang setengah mati, "Akhirnya kamu mendapatkan pekerjaan tetap, Nak!" ucap ibunya.

Joe pun bingung karena dia tahu ini bukan passion-nya, ibunya pun mengancam Joe untuk tidak menolak kesempatan emas ini. Di tengah kebimbangan, dia mendapatkan telepon dari kenalannya yang memintanya untuk audisi menggantikan posisi pianis sebuah band kuartet pimpinan pemain saxophone Dorothe Williams (Anglea Basset). Joe pun loncat kegirangan! "Oh my God! My dream will come true! I have to make it happen no matter what!". Mungkin kurleb kayak gitu kalo aku boleh bayangin excitednya dia!

Di jalan ketika dia lagi happy-happy nya, dia gak sadar ada lubang di jalan dan dia gak sengaja terjatuh ke dalamnya. Ketika dia bangun, dia terkejut menyadari bahwa dia sedang berjalan menuju cahaya yang sangat besar, setelah dia bertanya kepada makhluk sekitarnya, dia sedang berada di Great After dan akan segera menuju ke alam berikutnya. Dia ternyata sudah meninggal! Dia tidak bisa menerimanya karena dia ingat bahwa nanti malam dia harus tampil sebagai pianis jazz. Dia pun kabur dan masuk ke Great Before; sebuah tempat di mana para jiwa akan dibentuk kepribadiannya sebelum masuk ke bumi. Secara tidak sengaja, dia pun terpilih sebagai mentor untuk 22 yang harus menemukan "spark" agar mendapatkan tiket ke Bumi.

22 adalah jiwa yang rebel, insecure, dan merasa tidak perlu untuk ke Bumi karena sudah nyaman dan cukup dengan menjadi jiwa saja. Hm.. Joe pun semakin semangat untuk membantu 22 mendapatkan "spark" agar tiket ke Bumi dapat digunakan olehnya. Aha! Di sini lah pertemanan antara "yang tidak boleh namun ingin mendapatkan" vs "yang punya kesempatan namun tidak mau mengambil" dimulai! Pada posting-an kali ini, aku mau share 6 ilmu kehidupan yang aku pelajari dari film SOUL. Take your time and enjoy reading!

1. Don't be The Lost Souls!
Dalam satu scene ketika Joe dan 22 sedang bersama Moonwind untuk mendapatkan jalur singkat ke bumi secara ilegal, mereka menjumpai banyaknya Lost Souls dalam perjalanan mereka. Dijelaskan bahwa Lost Souls adalah mereka yang terobsesi dengan sesuatu hingga tidak bisa lepas atau jiwa yang telah terjebak dalam rutinitas mereka.

Sekilas kepikiran, asli serem banget kalau kita uda terbiasa sama rutinitas, namun tenggelam karena uda pasrah dan ga tau mau apa lagi, jadi akan jalani hidup gitu gitu terus, yang penting masih bisa kerja, makan, jalan, cukup aja sampai di sini. Bisa juga berakibat depresi karena lama-lama merasa diri ga berguna dan hidup gitu-gitu aja. Gak heran bunuh diri terus meningkat karena tingginya rasa insecure mereka.

Poin ini bantu mengingatkan kita kalau kita ngerasa hidup uda ga asik lagi dan monoton, look inside, know yourself, and explore more! Nanti di masa tua, akan lebih nyesel sama apa yang ga kita lakuin dibandingkan apa yang kita lakuin tapi ga berhasil, at least ada pengalaman "pernah mencoba"! I hope we don't belong to the lost souls!

2. Never look down on people
Tanpa disadari, Joe dan 22 saling merendahkan hidup satu sama lain. 22 merendahkan Joe ketika dia melihat flashback hidupnya yang monoton, penuh dengan kesuraman dan kesendirian, dan tidak berwarna. Sedangkan Joe juga merendahkan 22 bahwa dia tidak akan berhasil di Bumi karena anaknya rebel dan dia bahkan tidak dapat menemukan "spark" nya.

Ketika aku menonton film ini, aku menyadari bahwa masing-masing mereka merasa bahwa keduanya sama hebatnya bagi masing-masing. Joe merasa dia yang paling pantas kembali ke Bumi karena dia selangkah lebih dekat dengan cita-citanya menjadi pianis jazz, sedangkan 22 merasa hidup sebagai jiwa tanpa perlu menjadi manusia adalah yang terbaik karena dia tidak perlu pusing tentang rumitnya kehidupan manusia. Kebanggaan tersebut membuat mereka terjebak dalam diri masing-masing, merasa diri paling benar dan layak!

Seiring dengan berjalannya film, mereka pun dibuat mengerti bahwa semua impian sama pentingnya bagi masing-masing karena ada tujuan/rasa syukur yang hendak dicapai.

Tuesday, December 29, 2020

8 Pelajaran Bisnis dari Drama Korea Itaewon Class

Hai, how's your day? Semoga tetap sehat dan semangat di tengah COVID-19 ini ya! Kalo kemarin aku sempet sharing tentang nilai kehidupan yang bisa kita ambil dari drakor Itaewon Class yang aku bagi jadi 2 part, part 1 bisa kalian baca di sini, part 2 bisa kalian baca di sini. Nah, postingan kali ini adalah yang terakhir tentang Itaewon Class, tapi spesial mau ngebahas tentang pelajaran kehidupan ketika menjalankan bisnis ala Itaewon Class! Nah kalian bisa liat jeda waktu antara tulisan terakhirku di bulan Juni dengan yang terbaru ini, haha.. itu kenapa aku selalu bilang kalo nulis itu butuh konsistensi di tengah gempuran badai kehidupan. Baiklah, tanpa berlama-lama lagi, selamat membaca ya guys! ^^

1. Menu andalan
Di dalam drakor ini, ketika Jo Yi Seo - si bocah petakilan yang menawarkan diri sebagai manager pub DanBam diizinkan oleh Park Sae Ro Yi memberikan kritik terkait bisnis yang baru dimulainya ini. Dengan gayanya yang nyablak, doi mengkritik terkait menu andalan yang tidak dimiliki. "Harus ada signature dish dari pub ini biar orang tau mengapa mereka harus datang lagi ke sini!". Ga cuma pub yang mejeng di Itaewon (ngandelin jalan yang emang uda hype banget sama anak muda), tapi harus ada kebanggaan DanBam yang dijual.

2. Cita rasa
Jo Yi Seo mencoba makanan yang dimasak oleh Ma Hyun Yi yang dianggapnya sebagai salah satu yang terbaik, ketika dihidangkan Jo Yi Seo langsung memberikan kritik pedas lantaran cita rasa yang biasa. Menarik dari hal ini ketika Jo Yi Seo bertekad bulat untuk memecatnya dan menggantikan dengan chef yang lebih baik, Park Sae Ro Yi dengan ke-idealisme-annya malah memberikan gaji 2x lipat lebih banyak kepada Ma Hyun Yi dan mengatakan bahwa dia percaya kalo Ma Hyun Yi pasti mampu menghasilkan makanan dengan cita rasa wow. Ma Hyun Yi pun tidak menyia-nyiakan kesempatan dan terus berlatih. Well, we all know that practice makes perfect, the rest is history!

3. Penyajian makanan
Jo Yi Seo yang emang pedes mulutnya (haha!) juga ikut mengomentari cara Choi Seung Kwon menyajikan makanan kepada pelanggan. Dia menyentuh bagian dalam piring berisi makanan dengan jarinya, simple thing but matters the most! Makanan yang sudah dimasak dengan cita rasa sempurna juga harus dihidangkan kepada pelanggan secara higienis dan tidak asal-asalan. 

4. Dekorasi
Selain itu, dekorasi juga menjadi bagian penting di dalam bisnis, awal dekorasi DanBam sangat gelap dan tidak menarik, seperti tidak ada hawa kegembiraan di dalamnya. Setelah dilakukan dekorasi dengan sentuhan Jo Yi Seo (lampu-lampu dengan botol sojunya, pub pun berubah menjadi lebih terang, kekinian, dan bernuansa anak muda.

Monday, June 1, 2020

8 Pelajaran Kehidupan dari Drama Korea Itaewon Class (Part 2)

Hai guys! Setelah vakum selama 1 minggu, aku kembali lagi untuk sharing kelanjutan dari life lessons yang bisa kita pelajari bareng dari drakor Itaewon Class. Nah, buat kamu yang belum baca part 1 nya, kalian bisa baca di sini

Baik chingudeul, selamat menikmati dan resapi baik-baik tiap kalimatnya ya ^^

5. Lihat segala sesuatu dari sisi positif!
Park Sae Ro Yi ini adalah salah 1 tokoh yang suka buat aku geleng-geleng kepala karena ga habis pikir, positifnya gila-gilaan! Segala sesuatu pasti terjadi karena ada alasannya dan pasti ada jalan keluarnya! Waktu temen masa kecilnya khianatin dia dengan memberikan kesaksian palsu, dia bisa terima, "it's okay, there must be a reason for you to do this." Ya, emang bener sih Soo Ah ngelakuin itu demi financial support sampai dia kuliah, secara dia yatim piatu dan Soo Ah bilang dia ga sekuat Park Sae Ro Yi.

Waktu pub kecil (DanBam) Park Sae Ro Yi dibeli oleh orang yang ternyata adalah pemilik Jangga (musuh bebuyutannya), saat itu Jo Yi Seo meminta agar Jang Geun Soo yang bekerja sebagai part timer yang merupakan salah satu anak dari Jang Dae Hee (pemilik Jangga) untuk resign agar ayahnya tidak jadi membeli lokasi DanBam. 

Akibatnya Park Sae Ro Yi marah dan meyakinkan  karyawannya bahwa pasti ada jalan keluarnya. Gilanya dia membeli toko di daerah valley yang uda lesu ekonominya, emang gila nih orang, ga habis pikir tapi ya itu, ide membeli tempat di lokasi sepi bukan tanpa sebab, nanti akan aku bahas bagaimana dia mengusahakan yang terbaik untuk tempat itu hingga menjadi hitss!!! Sulit dipercaya bukan? Haha, ditunggu saja artikel selanjutnya ya guys!!

Salah satu yang terbaik adalah ketika dia secara implisit berterima kasih kepada musuh bebuyutannya - Jang Dae Hee. Jika dia tidak menyimpan dendam yang demikian besar, dia tidak akan menyiapkan rencana demi rencana agar siap mengalahkan Jangga, sebuah mimpi yang bahkan tidak digubris dan dipercayai oleh siapa pun yang berada dekat Park Sae Ro Yi saat itu, jujur aku sebagai penonton juga berpikir apa iya? Ya, walo secara sinetron tau akan terwujud, tapi sungguh menarik bagaimana dia menyiapkan strategi demi strategi untuk mewujudkan mimpinya.

6. Didikan keluargamu adalah salah satu pondasi penting dalam prinsip hidupmu! 
Park Sae Ro Yi adalah salah satu contoh anak yang berhasil dididik dalam keluarga benar, prinsip mempertahankan kebenaran jika tidak salah dan berbicara seperlunya (bukan penjilat) dia pegang teguh hingga akhir episode, jujur secara realita sulit untuk tidak berubah di tengah dunia yang makin tidak baik ini. 

Nah sebaliknya, Jang Dae Hee sebagai pemilik Jangga menanamkan didikan super keras dan otoriter kepada Jang Geun Won (musuh pertama 
Park Sae Ro Yi). Dia tumbuh menjadi anak manja dan tidak tahu arti kerja keras. Dia pikir uang bisa menyelesaikan segalanya, lagipula untuk setiap kebandelan yang dia lakukan, ayahnya pasti akan jadi orang terdepan yang akan membela dan melindungi dia dengan cara apapun, termasuk yang salah.
Ayahnya tidak pernah menyadari secara perlahan namun pasti, ajarannya telah mengubah Jang Geun Won menjadi anak yang keras, menggampangkan segala sesuatu, dan tidak berkembang. Terlebih dia menjadi orang yang sangat temperamental, dia semakin kesal ketika mendengar omelan dan mendapatkan tamparan dari ayahnya, "Dasar, anak tidak berguna!". Ayahnya tidak tahu kalimat-kalimat yang kerap menyakiti anaknya telah terpupuk menjadi dendam dan kebencian yang tiada tara.

7. You have no right to determine my values!
Nah, ini salah 1 kalimat favoritku, kena banget dan emang harusnya diyakini untuk setiap kita, tanpa kecuali. Kalimat ini pertama kali muncul ketika Park Sae Ro Yi berada di dalam penjara dan dia memang terkenal pendiam dan suka menyendiri, Choi Seung Kwon sebagai salah satu anak baru merasa penasaran dan mau bully dia, kasarnya "ngapain lu sibuk baca buku padahal lu lagi di penjara?". Mindset yang muncul adalah kalo lu di penjara, hidup lu berarti udah berakhir dan lu udah rusak, ngapain sok-sok bijak dengan baca buku.

Akhirnya Choi Seung Kwon mengganggu Park Sae Ro Yi karena tidak suka dengan idealismenya. Park Sae Ro Yi memilih untuk tidak menggubrisnya dan tetap membaca biografi Jang Dae Hee, ketika dihina karena prinsipnya untuk terus belajar dan mempersiapkan diri, kalimat ini pun terlontar, "You have no right to determine my values!"

Jujur aku sukaaaaaaaa banget waktu kalimat ini diungkit sama Park Sae Ro Yi, dia ingin menunjukkan bahwa sekalipun dia berada di penjara, siapa pun ga berhak menilai bahwa dia ga berharga. Status narapidana ga bisa membuat dia berhenti melakukan apa pun untuk menambah value hidup dia.

Monday, May 25, 2020

8 Pelajaran Kehidupan dari Drama Korea Itaewon Class (Part 1)

Hai semuanya, apa kabar kalian di tengah-tengah masa liburan dan work from home di tengah pandemik Covid-19 yang belum menemukan titik terang? Mari berdoa agar semuanya segera berakhir dan kehidupan kembali normal..

Nah, pekerjaan yang superb membuatku vakum lama dari dunia per-drakor-an, selain itu juga makin milih-milih apa yang mau ditonton, jujur uda males banget nonton drama percintaan ala Goo Jun Pyo dan Geum Jan Di, too drama. Dari dulu uda suka alur cerita drakor yang seperti I Hear Your Voice, While You Were Sleeping, Pinochio, dll. Kurang lebih pemain dan writernya itu-itu aja, haha!

Baru beberapa hari ini aku kelarin 1 drama yang aku sebenarnya menghindari karena kurang demen sama artis cewenya, tapi akhirnya kupaksakan nonton karena banyak banget orang sekitarku saranin aku nonton drama ini. Alhasil setelah aku nonton, baru episode 1, uda mewek dan yakin banget ini akan jadi salah satu drama korea terbaik yang pernah aku tonton. Yap, drama ini adalah Itaewon Class (IC)!

Bener aja, ketika kelar 16 episode yang aku habiskan dalam waktu 1,5 hari saja, aku langsung cari tau tentang rating, penghargaan, atau informasi apa pun terkait drama ini. Drama ini bener-bener beda guys! Berkelas! Nah, saking terkesannya aku sama drama ini, sampai aku memutuskan untuk kembali blogging demi nulis pelajaran kehidupan apa yang bisa kita petik dari drama ini. Hati-hati guys karena review ini mengandung spoiler! Mending sebelum baca ini, kalian nonton dulu, abis itu baru mampir ke blog ini lagi! So, let's start!

Ada 8 pelajaran kehidupan yang ingin aku bagikan kepada semuanya tentang drama korea ini, silahkan dinikmati ya ^^

1. You have no idea how proud i was. I want you to keep living like that, son! 
Kisah ini diawali dengan Park Sae Ro Yi yang baru saja pindah ke sekolah baru, di hari pertama dia sekolah, dia melihat sendiri bagaimana temen sekolahnya di-bully (Lee Ho Jin) dan dia ga tahan untuk membela. Dari situlah semuanya berawal, bahkan ketika guru masuk dan Park Sae Ro Yi melaporkannya, guru tersebut pura-pura tidak melihat dan menyuruh dia untuk duduk saja, alhasil tinju Park Sae Ro Yi pun melayang di muka Jang Geun Won; anak pemilik perusahaan makanan Jangga no 1 di Korea. 

Akhirnya kedua orang tua dipanggil ke sekolah dan Park Sae Ro Yi pun menyadari bahwa ayahnya bekerja di Jangga. Jang Dae Hee sebagai ayah sekaligus pemilik Jangga dari awal kemunculannya emang uda bikin sebel, persis anaknya, ga salah sih ada julukan, "like father like son". Bener-bener keliatan berkuasa dan semena-mena. Jang Dae Hee mengatakan bahwa dia akan mengampuni Park Sae Ro Yi asal dia berlutut dan minta maaf agar tidak dikeluarkan dari sekolah. 

Dasar Park Sae Ro Yi yang "bodoh"! Dia tidak membiarkan harga dirinya terinjak begitu saja, dia bilang "Saya tidak bisa meminta maaf untuk sesuatu yang benar yang saya lakukan, teman saya dianiaya dan bahkan guru pun tidak melakukan apa-apa!" Well, ga seperti tipikal drama korea pada umumnya, akhirnya Park Sae Ro Yi pun dikeluarkan dari sekolah di hari pertama dia pindah sekolah. Ayah Park Sae Ro Yi pun akhirnya mengundurkan diri dari Jangga karena merasa bertanggung jawab atas "kesalahan anaknya".

Park Sae Ro Yi menangis karena sikapnya telah menyusahkan ayahnya, tapi ayahnya menghibur dia dan berkata "Kamu ga tau betapa aku bangga terhadapmu! Apapun yang terjadi, aku ingin kamu terus hidup seperti itu". Kalimat itu sungguh menggetarkan hatiku; ada sisi di mana ayahnya sungguh amat bangga karena telah berhasil mendidik anaknya menjadi orang yang kuat memegang prinsip kebenaran dan tidak takut menjalaninya. 

Aku nangis juga ketika nonton dan aku yakin banyak juga yang nangis ketika nonton drakor ini. Aku sangat sangat tahu gimana susahnya mempertahankan prinsip yang benar (bukan baik) di tengah-tengah dunia yang menentang kita. Butuh niat dan konsistensi yang superb! Namun ternyata itu baru awal dari segalanya. Bonding ayah dan anak hanya bisa terlihat jelas di episode 1 karena ayahnya meninggal karena motornya ditabrak oleh mobil Jang Geun Won.

Di tengah rasa duka yang mendalam, polisi datang ke rumah duka ayahnya dan menawarkan uang sebagai kompensasi agar kasus ini ditutup, begitu tau bahwa pembunuh ayahnya adalah Jang Geun Won, dia segera berlari ke rumah sakit dan berniat untuk membunuhnya, rasa marah yang sungguh bisa dimengerti karena Park Sae Ro Yi hanya memiliki ayahnya sebagai orang yang sangat berarti dalam hidupnya, namun akhirnya digagalkan oleh Oh Soo Ah (teman Park Sae Ro Yi yang kehidupannya dibiayai oleh ayahnya). Akhirnya, Park Sae Ro Yi malah dipenjara selama 3 tahun, lagi-lagi ingin menunjukkan bahwa uang sungguh berkuasa membungkam apa pun, bahkan hukum sekalipun! Mimpi Park Sae Ro Yi menjadi polisi pun musnah karena dia adalah seorang narapidana! 

2. Hasil tidak akan mengkhianati usaha
Kehidupan penjara tidak mudah, bullying pun dihadapi Park Sae Ro Yi pada hari pertama ketika dia tiba, senior di dalam penjara meminta dia untuk berlutut sebagai anak baru di sana, tentu saja tidak dia lakukan, why? Karena dia Park Sae Ro Yi, haha. Alhasil dia dipukul bertubi-tubi, tapi tidak mengecilkan hatinya. Dia sungguh memanfaatkan waktu 3 tahun dia di dalam penjara. Tekad dia saat itu adalah balas dendam kematian ayahnya dengan membuat food company nya mengalahkan Jangga! Siapa yang percaya dia akan berhasil melakukannya? No one!

Dia membaca biografi Jang Dae Hee sebagai pendiri Jangga, mempelajari strategi bisnisnya dan mengatur apa yang akan dilakukannya ketika dia keluar dari penjara. Di salah 1 episode IC, Lee Ho Jin datang menjenguknya dan berterima kasih karena gara-gara dia, Park Sae Ro Yi dikeluarkan dari sekolah dan kehilangan ayahnya. Ternyata dari situ semua berawal, saat ditanya apa yang akan dilakukan Park Sae Ro Yi ketika bebas, dia pun menawarkan bantuan untuk membantu mewujudkan mimpinya (buka restoran - melanjutkan mimpi ayahnya yang belum tercapai!).

Bantuan yang tidak sembarangan diucap karena Lee Ho Jin mengambil jurusan bisnis keuangan yang membuat dia mengerti cara investasi uang, Park Sae Ro Yi pun memercayakan seluruh uang dari asuransi kematian ayahnya untuk dikelola Lee Ho Jin. Bukan hanya sekedar membantu, Lee Ho Jin juga ingin balas dendam kepada Jang Geun Won, yang telah mem-bully dia selama 3 tahun.

Setelah bebas dari penjara, Park Sae Ro Yi bekerja serabutan demi mengumpulkan uang selama 7 tahun, tidak diceritakan seberapa keras namun akhirnya dia berhasil membuka sebuah pub di daerah Itaewon dengan cara sewa, salah 1 daerah yang cukup bergengsi dan ternyata dekat dekat salah 1 pub milik Jangga.   

Kalau dipikir-pikir, sepertinya mustahil seorang napi dan SMA yang tidak lulus berhasil melakukannya, tapi ya itu, tidak ada yang mustahil untuk dicapai selama kita masih hidup! Dia tidak membuang waktu selama 3 tahun di penjara dan 7 tahun kerja serabutan, semua dipersiapkan dengan matang, ga kebayang betapa keras usahanya demi mewujudkan mimpinya; yang awalnya mendapatkan "cibiran" dari orang sekitarnya, "mana mungkin". Tapi itulah Park Sae Ro Yi, tidak menyerah dan yakin sama kemampuan dirinya. Ya, memang secara dekorasi dan kualitas masih kalah jauh dengan pub Jangga, tapi itu adalah langkah awal dari mimpi-mimpi lainnya yang belum terwujud. 

Friday, August 17, 2018

8 Tips Menyusun Itinerary Travelling Sendiri

Hi, back again with me, setelah kemarin aku sempet sharing mengenai asiknya travelling dengan tur di sini dan betapa serunya nyusun itin sendiri di sini. Nah, kalian pasti penasaran kan apa yang menjadi keputusanku kemudian? Duduk ongkang-ongkang kaki sambil ikut jadwal tur atau duduk berjam-jam bahkan berhari-hari demi nyusun itin ideal agar travelling ala aku berhasil; pilihannya adalah....... jeng, jeng, jeng.. (norak)..

Of course, without any hesitation, dengan segala kesungguhan dan kesanggupan hati, aku memilih jalur travelling dengan nyusun itin sendiri? Why, oh why? Mulai deh pembaca protes pas lagi inget-inget susahnya nyusun itin sendiri. Cuma ada 3 alasan utama kenapa aku membelot dari rombongan tur yang menurutku super nyaman.

One, freedom. Yap, aku bebas tidak terkekang oleh toa si guide yang selalu countdown tinggal berapa menit lagi waktu yang tersisa untuk menikmati dan explore tempat wisata yang baru. Ngerasa ga asik banget waktu ke Great Wall, menurutku itu sangat outstanding! Tapi aku cuma dikasi waktu 40 menit, bukan salah guide-nya, cuma jengkel aja tempat segitu keren dan bagusnya cuma 40 menit, ga rela, bener-bener ga rela.

Two, a dreamer. Pemimpi yang bukan berarti tukang mimpi, tapi lebih ke gini contohnya, "bisa ga ya ngelilingin 1 pulau Taiwan?" atau "bisa ga ya dapet 3 negara sekaligus?". Bukan rakus ya tapi bersemangat menjelajahi banyak tempat karena aku bukan tipe orang yang kalo liburan cuma 3 atau 5 hari. As a worker, cutiku ga sebanyak guru atau entrepreneur, jadilah tiap liburan Lebaran, pasti akan selalu pergi travelling, waktunya bisa sekitar 2 minggu lebih. Waktunya bakal klop sama sodara yang juga a worker, jadi ga remps dan cuma motong cuti dikitt alias bisa hemat cuti.

Rasanya mungkin kayak gini nih :p
Three, super proud. Jujur aku ngerasa bangga kalo berhasil nyelesaiin itin dengan penuh rasa di dalamnya (lho, maksudnya?). Maklum hobinya berfilosofi, jadi gini di dalam penyusunan itin dan pelaksanaannya selalu ada suka dukanya, kadang berhasil, kadang juga gagal T_T tapi hati ini puas karena pas ngalamin bersama-sama alias ga sendiri. Ada rasa bersyukur dan sukacita waktu rombongan yang nebeng travelling puas dan kasih senyum atau angkat jempol ke kita (macem mau ngomong well done gitu, walopun ga diucapkan secara langsung sih >,<). Btw, pernah lho dititipin salam sama temen punya temen lagi waktu share itin Korea, "temen lu keren banget deh buat itinnya lebih detil daripada tur Koreanya, asli!" (ga bermaksud sombong :p).

Nah, pertanyaan berikutnya yang muncul kalo kalian uda mulai tergiur dengan 3 alasan di atas (ato belum?), gimana nih caranya biar jago nyusun itin kayak aku? Eh bukan, kayak aku deh, tapi kayak temen2 yang emang hobinya backpacker-an. Sekali lagi netizen dilarang nyinyir karena ini lapak saya tentu tips yang dibagikan adalah tips murni dari aku sendiri sebagai penyusun itin travelling sejati, ciee.. Here we go!

1. Jangan males!
Jangan pernah mimpi bakal jago nyusun itin kalo kamu pemalas, bangun, jadilah rajin dan belajarlah dari teladan si semut (eh, salah, keterusan :p)
Sebagai seorang itiner (biar gampang disebut gini aja ya), kalian harus rajin cari beragam informasi dan rajin compare dari satu hal dengan hal lainnya. Contoh untuk pencarian tiket pesawat; daripada repot buka banyak aplikasi, sekarang bisa terus dipantau dengan Sk*scan*er di mana kita bisa set notif untuk waktu penerbangan yang diinginkan, mau naik pesawat apa, dengan transit ato ga, termasuk budget harga.

2. Jangan malu bertanya!
Beranikan diri untuk bertanya di forum backpacker/blog/media apa pun mengenai informasi yang kalian pengen tau tapi ga bisa nemu setelah ALL OUT googling dan emang cuma bisa didapet sama orang yang uda pernah berkunjung ke sana. Fyi, aku pernah nanya alias SKSD dengan PM orang melalui facebook tentang tujuan wisata karena emang info yang didapet tentang tempat itu minim banget dan ini cukup banyak aku lakukan ketika aku nyusun itin ke Taiwan ('til now this is the hardest one!). Ingat ya! Jangan menanyakan suatu hal yang biasa dan jawabannya bisa kita cari dengan mudah di google. 

3. Jangan cepet nyerah!
Seorang itiner harus pantang nyerah, why? Karena di tengah perjalanan nyusun itin, kamu bakal sering banget nemuin banyak hal yang buat kamu mau nyerah aja, "tar deh liat di sana aja, tar deh di sana aja baru tanya orang", nah ini nih! Mentalnya kurang kuat, kok lebay sih kayaknya sampe jangan cepet nyerah? Soalnya nyusun itin itu emang cape banget, apalagi buat tempat yang supeer baru dan kita asing sama tempat itu, ini beda ya dengan negara tetangga seperti Singapura ato Malaysia, yang emang modal mulut aja juga uda cukup.

Cara motivasi diri buat ga nyerah pas nyusun itin adalah inget bahwa ini demi travelling yang bakal terlaksana, jadi susunlah dengan sedetil mungkin, biar di sana ga perlu remps nanya-nanya orang, tinggal jalan dan ikutin alur itin kita aja, hehe.

4. Jangan manja!
"Mau nanya dong ada promo tiket pesawat murah Jkt-Bali ga ya? Kalo ada info ya.."
"Gue baru pertama kali ke Sing nih, gimana ya cara naik MRT waktu sampai di sana?"
"Bulan depan bakal ke Jepang pertama kali nih, kira-kira aku harus main ke mana aja ya?"
Duh, gemes maksimal! Sori ya tanpa bermaksud nyinyir ato nyindir siapa pun, kadang suka kesel sama tipe orang kayak gini; yang menyebut dirinya adalah backpacker (keliatan uda pro) tapi kok masih nanyain hal yang "cupu" macem gini, jangan manja pliss!

Kalo mau jadi itiners sejati, stop kebiasaan nanya pertanyaan cupu dan ga jelas macam itu, sebagai traveller yang aku anggep harusnya rajin dan ulet, pertanyaan terlalu dasar di atas harusnya ga perlu dilempar ke forum ato ditanyain ke publik karena semua jawabannya bisa kamu temuin dengan satu jawaban, yap.. GOOGLING!

Bahkan di forum backpacker mana pun yang kalian ikuti, please latihlah dirimu untuk browsing sebelum nanya, sekarang teknologi makin mudah, udah bisa pake hashtag (tanda #) untuk mempermudah pencarian kamu. Tentukan destinasi yang dituju, misal Jepang itu kan kecil, musim apa dulu yang kalian mau incar, lalu kota apa aja, liat ke peta rutenya, cocokin ke web pencarian tiket pesawat, dan lain-lain.

So, please stop asking the super cupu questions like that at forum ya, kecuali emang kalian males atau emang ga nemu jawaban setelah googling dan usaha pencarian lainnya, ini menurutku ya, inget no hurt feeling! ^^
Saturday, August 11, 2018

Keuntungan dan Kerugian Travelling dengan Itinerary Sendiri

Hai semuanya, gimana kabarnya di weekend ini? Semoga selalu sehat dan tetap semangat travelling ya. Menyambung topik yang telah dibahas kemarin mengenai untung rugi ikut tur yang bisa kalian baca di sini, kali ini aku akan ngebahas mengenai untung rugi alias pro cons travelling with our own itinerary. So kita akan mulai dengan consnya dulu ya because you know what kind of person i am, here we go!

1.  Cape fisik dan mental
Jangan tanya lagi seberapa capeknya nyusun itin, let me tell you! It's a superb, maksudnya adalah super duper capek. Kamu harus pinter bagi waktu antara kerjaanmu/kuliahmu sama kegiatan ekstra aka nyusun itin yang emang makan waktu banget, bijak-bijak atur waktu, contoh ya: lebih milih scroll posting-an lamb* t*rah di IG ato scroll aplikasi travel*ka demi nyari promo yang aduhai? Nah, kalo istilah kerennya sih not wasting time.

2. Kudu super ekstra sabar dan ulet
Percaya deh kamu harus super ekstra sabar kalo lagi nyusun itin, based on mine: misal nih waktu uda nentuin ke Taiwan, mau mulai searah jarum jam atau berlawanan. Abis mutusin dan browsing mau searah jaruh jam, eh ternyata kok susah ya rutenya, akhirnya terpaksa ganti rute. Ada yang salahkah? Nope, tapi percayalah there is no growth in comfort zone (Cie, bijak :p). 

Ulet - kamu harus super rajin untuk bandingin harga tiket pesawat dari hari ke hari, terutama untuk aku yang emng selalu jalan-jalan ngambil libur panjang (Lebaran, makin ke sini makin banyak liburnya kan :p). Nah, harga tiket pesawat pas high season itu najubile mahalnya ampun deh, padahal cuma naik Singa T_T

Uletnya juga dalam nyari promo tiket wahana, misal kalo kamu pake klo*k, eh sekarang travel*ka juga hadirin promo, bingung kan mau pilih yang mana, hehe. Biasakan pura-pura selesaikan transaksi sampai mau bayar ya, soalnya kadang harganya bisa nambah sendiri.

3. Emosi-an aka baper-an
Nah, ini berlaku buat kondisi tertentu aja sih, kadang bisa timbul rasa iri dengki sama orang yang nebeng ikut kita padahal dia ga bersumbangsih apa pun. Baper biasanya suka muncul kalo kita lagi mumet dan udah buntu mau lanjutin itin kita, "ah, uda gue yang cape2 buat, dia cuma nebeng, males d!" Ini bukan lagi ngomongin itung-itungan, cuma kadang bisa baper kayak gitu. 

Terus pasti bakal muncul pertanyaan dari kalian, "Uda tau gitu ngapain diajak sih?". Nah, kadang kita kan pergi sama temen deket atau keluarga kita kan, masa iya kita suru dia stay karena ga bantuin. Atau kadang tetep ngotot mau ngerjain sendiri karena cara kerja kamu beda sama dia, kamu terbiasa kerja rapi dan super detil, sedangkan si dia cuma sekedarnya aja, daripada ribut, mending dikerjain sendiri kan? Hayo, siapa yang sama pengalamannya kayak aku? :D

4. Tidak semua informasi bisa didapat dengan mudah
Ini berlaku buat negara yang ga gitu familiar buat dikunjungi karena ga ada infonya alias no one's blogging this country. Kalau pun ada, mungkin dengan bahasa mereka. Sejauh ini sih pengalaman nyari itin paling susah yang pernah aku alamin adalah waktu ke Taiwan, gile bo, superrrb!! Ada sih yang posting tapi bahasa Mandarin, kalo baca dikit sih gak apa, kalo panjang males juga, pake google translate sulit karena isi posting-an bahasa gahul mereka, kayak kita suka pake kata "alay, cape d!". Unfortunately, si om google belum sepandai itu. Jadi ya gitu deh...

5. Wasting time
Kadang kalo uda mau nyerah alias bodo amat karena ngerasa lama banget waktunya abis cuma buat nyari informasi di mana dan gimana cara pergi dari 1 kota ke kota lain. Uda cari sana sini ga dapet, email tempat bermain ga update, ah, ada-ada aja! Terus mulai ngitung-ngitung, kemarin aja pas nyari tempat wisata di Taipei ga sampe sehari langsung bisa, ini kok pas di Hua Lian cuma dikit sih? Transportnya gimana? Udah 2 hari nyari ga nemu-nemu, oke deh, skip aja - nah nah pikiran kayak gini nih yang bisa muncul kalo ngerasa waktunya uda terbuang percuma.
Friday, August 10, 2018

Keuntungan dan Kerugian Tour Travelling

Halo semua, balik lagi dengan tulisan yang niatnya mau berusaha konsisten untuk nulis dengan konten travelling, doain ya para pembaca, lagi agak vakum dari kesibukan dunia sehingga punya waktu untuk blogging :p

Topik kali ini masih di konten yang sama yaitu penulis mau ngebahas serunya travelling dengan ikut tur, dari sisi plus dan minusnya, well dalam setiap keputusan yang diambil akan selalu ada sisi pro dan kontranya (cie, lagi bijak :p). Penulis akan ngebahas dari sisi keuntungan dulu, eh kerugian dulu deh, karena penulis suka save the best for the last. So, check it out ya guys, here we go!

1. Cape fisik aja
Kenapa fisik aja? Bagi yang pernah ikut tur pasti tau gimana capeknya ngikutin jadwal tur yang padat banget dari pagi sampai malam, bahkan kadang-kadang demi pindah lokasi yang oke, subuh-subuh banget kudu bangun buat check out dan akhirnya habisin waktu di bis untuk tidur – yang kadang ga semua orang bisa pelor (nempel molor), untuk orang seperti itu penulis termasuk yang susah tidur dengan cepat, huff. Atau sebaliknya, bisa sibuk ke sana sini sampai larut malam banget jadi ga sempet nikmati hotel yang bagus, pulang-pulang berasa banget badan pengen cepet nempel kasur.

2. Biaya tidak sesuai janji
Ini kebiasaan yang sering bahkan kayaknya uda berusaha dimengerti oleh apra traveller, imho ya pengalaman di tur Indonesia itu pas lihat iklannya di koran misal per orang kena 20 juta, begitu cek ke website resminya 25 juta, begitu coba telepon ke CP turnya tau-tau uda 30 juta belum lagi ditambah biaya tour guide dan biaya tambahan masuk suatu arena, dll, dll. Duh, males banget – ngeselin sih kadang, maap penulis baper.

Actually bukan keberatan di masalah biaya, cuma kadang traveller itu begitu bayar lunas di muka, pengennya pure jalan-jalan dan nikmati apa yang uda dibayar tambah embel-embel lagi, kan uang lebihnya bakal dipake buat belanja, kalo masalah tips guide sih penulis no problem ya, it’s a common thing.

3. Membosankan
Ini adalah reason yang belum tentu semua orang setuju, kadang acaranya gitu-gitu aja: makan-jalan-makan-jalan-makan-jalan-belanja-pulang-tidur, gitu terus, jadi sedikit membosankan. Terkadang mungkin bakal jarang nemuin sesama anak muda karena biasanya yang rajin ikut tur gitu adalah para orang tua yang emang males rempong urus sana-sini dan cuma mau terima jadi dan beres aja. Tidak menutup kemungkinan bisa ketemu sama sesama anak muda yang pasti lagi jalan sama orang tuanya juga, tapi peluangnya sedikittt.

Membosankan di sini bisa juga dalam arti menunggu, misal nih kamu adalah karyawan yang bakal pergi demi ngabisin cutimu yang bukan high season, kamu bisa nunggu entah sampai kapan kuota akan penuh sembari berharap-harap cemas perjalanan tidak dibatalkan karena uda bayar dan emang niat mau abisin cuti. Ide bagusnya adalah kalo kamu bisa boyong keluarga besarmu yang se-RT (lebay) dan langsung bisa nutupin kuota yang ada atau sisa kuota yang mungkin cuma perlu 10/15 orang.

4. Tidak sesuai keinginan
Bukan lagi nyalahin tur, based on writer’s experiences yang ga banyak, kadang suka diajak ke tempat yang kita ga mau, bahkan ga terpikir, penulis ngalamin waktu pergi ke daerah-daerah di Tiongkok (kalo mau ngelilingi seluruh kota di Tiongkok ga bakal cukup pergi sekali aja kan), kamu biasanya dan hampir selalu pasti (lebay :p) diajak mengunjungi entah toko sutera, toko giok, toko teh, toko pisau, atau toko apa pun – kadang agak kasar karena kesannya kita dipaksa untuk beli produk mereka, sampai memohon untuk beli karena mereka dapat target untuk berhasil menjual. Akhirnya dalam suatu tur kita 1 rombongan pernah sepakat buat ga beli apa pun karena ngerasa diperas dan ada 1 kepala geng yang bilang ke guide kalo tujuan jalan-jalan itu buat have fun dan belanja yang emang sesuai keinginan sendiri bukan based on torture.
Coba bayangin, ga minat ke sini tapi diajak ke sini T_T
Pernah juga turnya membawa kita ke sinshe-sinshe gitu dan bilang kalo Papa kena suatu penyakit di hatinya dan dipaksa beli obat yang kemasannya menarik, kayaknya kalo ga nahan berasa kayak dihipnotis gitu. Akhirnya aku malah berantem sama dokter dengan bahasa Mandarin karena dia ngerasa aku lagi cegah papa buat beli obat itu, papa akhirnya beli obat itu terus aku bilang pasti ga diminum dan voila sampai detik ini masih ada di lemari atas tempat tidur dan tidak dimakan sama sekali, dijadiin pajangan aja. It happened in 2011 and it cost 5 millions, duh emosi kalo inget kejadian itu, walo masih kecil berasa banget jiwa ga mau dikibulinnya.

5. Waktu tidak bebas dan terbatas
This is the very main reason why i stop from joining tour in travelling around the world, ga betah banget sama aturan waktu yang serba dibatasin, misal penulis yang lagi travelling liat keajaiban dunia di Tiongkok, salah satunya The Great Wall. Baru aja sampe di sana, guidenya langsung bilang waktunya 40 menit ya untuk foto-foto dan jalan-jalan di sekitar sini, ga usah jauh-jauh. Whot??? Apa yang mau dipanjat kalo cuma segitu, baru juga sampe di undakan pertama, uda keburu habis waktunya, belum lagi sesi foto-foto yang banyak gaya dengan berbagai sudut. Ah, males!

Oke, penulis sudah jabarkan dengan lengkap ruginya travelling dengan tur based on my own experience. Sekarang kita lanjut yuk ke hal-hal positif dari ikut tur, ga adil kan kalo kita cuma ngebahas sisi negatifnya, so here we go again dudes!
Sunday, April 1, 2018

Travelling is a must!

Mungkin terkesan egois dan maksa banget bagi kalian (yang ga suka travelling) ketika aku milih judul artikel ini, why is it a must? Aku akan bercerita sedikit mengenai pengalaman travelling yang aku alami selama ini sebelum aku jelasin kenapa wajib banget untuk travelling. So, here we go. Travelling di dalam negeri yang paling berkesan sepertinya ketika aku ke Bali bersama keluarga besar dari mamaku, those were the best experiences that I have so far! Bersyukur bisa ikut tur bintang 5 waktu jalan-jalan di Bali, kenapa tur? Karena keluarga kami sudah terbiasa menerima beres dan menikmati momen perjalanan alias ga mau rempong ngurus ini-itu, berhubung waktu itu aku masih kelas 3 SD dan belum tau apa-apa, aku ikut-ikut aja :p
Foto travelling Bali yang dulu diambil dengan kamera
Bali identik dengan tempat yang ada monyetnya. Hm..

Bagaimana dengan travelling ke luar negeri? Well, pertama kali terjadi dalam keadaan terpaksa dan di luar kemauanku, yaitu pas kerusuhan Mei 1998. Kami sekeluarga minus papa terpaksa mengungsi ke luar negeri karena saat itu situasi di Indonesia terutama di Jakarta sudah tidak kondusif lagi, bersyukur karena ada saudara yang tinggal di Singapura dan terus menghubungi kami bahwa media Indonesia kala itu telah dimanipulasi sehingga berita mengenai rencana akan adanya kerusuhan justru kami terima dari mereka yang tinggal di Singapura. I’ll skip that part. 


Us with mom ^^
Travelling ala pengungsi itu terjadi selama 1 bulan, dulu masih berlaku fiskal kunjungan selama 2 minggu, jadi setelah 2 minggu, kami akan pindah ke Malaysia lalu setelah habis 2 minggu, kami akan kembali lagi ke Singapura. Semua terasa lebih mudah karena kami mempunyai saudara yang syukurnya tinggal di kedua negara tersebut. Berawal dari kata “terpaksa” ninggalin kota Jakarta, alhasil karena gak sekolah, kerjaannya di sana cuma makan-mandi-jalan-belanja-foto-makan-tidur begitu seterusnya. Bepergian dari satu tempat ke tempat lain di lain negara membuatku terpesona dan berpikir, “Wah, luar negeri sungguh keren ya, serba teratur dan rapi!”. 

Haw Par Villa yang konon sekarang uda hampir tutup karena teens males ke sini :(
Kecintaanku pada travelling semakin bertambah besar karena ada begitu banyak perjalanan yang aku nikmati setelah 2 momen di atas, semakin banyak travelling, aku semakin mengerti dan yakin bahwa travelling itu asik banget. Sampai di sini, mungkin ada yang ga seneng trus ngatain penulis super lebay. So rather than keep telling non-sense things, i’m gonna tell you why travelling is a must! Berikut adalah alasan terbaik yang aku kutip dari kalimat-kalimat keren tentang travelling: 

1. Travel is the only thing you buy that makes you richer - Anonymous 
Mungkin pernyataan ini agak sedikit lebay karena ga cuma ‘beli’ travelling yang buat kita kaya, ada banyak hal lain juga di luar travelling. Tapi pernyataan ini mau ingetin kita bahwa dengan uang yang kita keluarin buat pergi menjelajahi suatu negara atau tempat baru yang asing bagi kita, kita bakal makin kaya dari segi pengalaman, wawasan, informasi, budaya, dan lain-lain. Kalian sadar ga sih (terutama bagi yang suka travelling dengan nyusun itin sendiri) kalau perjalanan pertama mungkin agak menegangkan, after that slow but sure kepercayaan diri kalian meningkat karena uda makin ngerti gimana mengakali dan menyusun semua yang kita perlukan selama travelling :)

2. Once a year, go someplace you’ve never been before - Anonymous 
Pernyataan ini ga lagi maksa ato nuntut kita buat boros ngeluarin uang dari penghasilan kita untuk jalan-jalan; justru harusnya ini menjadi sebuah titik terang bahwa hanya diperlukan waktu sebanyak 1x dalam setahun untuk kamu travelling ke tempat yang kamu belum pernah kunjungi, after that kamu akan setuju atau terpaksa setuju :p bahwa travelling is a must for you! 

3. I travel a lot; i hate having my life disrupted by routine – Caskie Stinnett 
Mungkin ini salah satu pernyataan yang cocok untuk kalian bahwa travelling itu emang perlu banget terutama kalo kita adalah tipe orang yang mudah bosan dengan rutinitas. Believe it or not, setelah aku melakukan survei kecil-kecilan kepada orang sekitarku yang berusia seumuran, lebih muda, dan bahkan yang jauh lebih tua, mereka semua sepakat bahwa travelling itu perlu banget dilakukan sebagai “pelarian sementara” dari rutinitas kehidupan yang cenderung monoton-membosankan, atau sekedar melepas stres/penat dari beratnya beban hidup dan kerjaan (ciee :p); hm.. istilah kerennya refreshing sejenak dari beratnya hidup ini (apa sih..). 

4. The world is a book, and those who do not travel read only one page – Saint Augustine 
Ini pernyataan yang bener banget, pernah juga jadi caption di salah satu postingan instagram aku. Dunia yang kita tinggalin itu ibarat sebuah buku, kalo kita ga pernah ke mana-mana kita cuma stuck di satu halaman aja. Waktu belum travelling, duniaku itu seputar Jakarta-Cirebon-Bandung-and so on; after doing travelling, aku jadi merasa bahwa “buku” yang aku baca makin bertambah banyak “halaman”nya dengan tulisan dan rasa yang berbeda di tiap halamannya. 

Sunday, December 3, 2017

Hiduplah Indonesia Raya Dukung Bersama Asian Games 2018

Bulutangkis berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah cabang olahraga yang berupa permainan yang dimainkan dengan memakai raket dan kok yang dipukul melampaui jaring yang direntangkan di tengah lapangan; badminton. Topik ini yang pertama kali terbersit di kepalaku ketika kata olahraga muncul, orang sekitarku tentu tahu betapa besar rasa cintaku pada olahraga ini. Perkenalanku pada olahraga ini dimulai dari papa yang selalu menonton pertandingan bulutangkis di televisi, tahun 1998 adalah tahun pertama aku melihat bagaimana para pemain mengayunkan raketnya dengan lincah dan terkadang mengeraskan pukulannya pada kok yang ada. Cerita perkenalanku dengan olahraga ini dapat kalian baca lebih detil di sini atau dengan berkunjung ke instagramku.

Tentu sebagai pecinta bulutangkis kita tidak asing lagi dengan salah satu ganda putra terbaik milik Indonesia yang sedang naik daun saat ini, yang konon katanya disebut-sebut sebagai pengganti Hendra Setiawan-Mohammad Ahsan, iya, mereka adalah Duo Minions (Kevin Sanjaya-Marcus Fernaldi Gideon). Mereka mengawali karir dengan susah payah, tidak langsung mendapatkan kepercayaan dari pelatih/klub tempat mereka bermain sebagai tumpuan utama, mereka kerap kali berada di bawah bayang-bayang ganda putra HS-MA dan beberapa pemain ganda putra lainnya. Namun syukurlah hasil memang tidak pernah mengkhianati proses, berkat kerja keras dan kegigihan mereka perlahan namun pasti mereka semakin dikenal, berprestasi, dan bahkan berada di posisi nomor 1 dunia sebagai ganda putra terbaik dunia.

All England 2017
Mengapa Minions? Karena tinggi badan mereka tidaklah seperti pemain bulutangkis kebanyakan (± 175 cm), Kevin Sanjaya 170 cm dan Markus Fernaldi 169 cm, cukup ‘mini’ untuk standar rata-rata tinggi badan pemain olahraga tepok bulu tersebut. Bahkan ketika mereka berdiri di atas podium sebagai juara 1, tinggi mereka masih dapat dibalap oleh juara 2 bahkan sebelum sang juara 2 berdiri di atas podium. Memang tinggi badan mempengaruhi kecepatan footwork, namun melalui mereka, kita semua belajar bahwa tinggi badan bukanlah faktor terpenting yang harus dimiliki oleh pemenang kejuaraan bulutangkis.

Aku akan menceritakan secara singkat mengapa aku begitu jatuh hati dengan gaya permainan mereka. Berdasarkan pengalamanku yang sering lalu lalang sebagai penonton setia bulutangkis dari berbagai turnamen, mereka selalu menampilkan permainan dengan tempo yang sangat cepat, adu drive, return service yang memukau, flick serve yang terkadang mengesalkan pihak lawan, akting provokasi yang menarik untuk ditonton, dan yang terakhir namun tidak kalah penting daya juang dan semangat pantang menyerah yang sungguh patut ditiru oleh atlet lainnya.

Marcus Fernaldi Gideon bermain sebagai pengeksekusi kok dengan pukulan smash­-nya yang kencang, sang penggebuk yang kerap dijuluki sebagai “Senyuman Matahari” ini memang kerap kali menyusahkan lawan dengan smash-nya yang kencang dan terarah. Marcus itu ibarat Christiano Ronaldo, dia giat berlatih bahkan dalam satu cuplikan wawancaranya dia kerap mendatangi pelatih dan meminta porsi latihan yang lebih agar dapat mengimbangin keterampilan dan kelihaian Kevin dalam bermain bulutangkis. Sedangkan Kevin Sanjaya sungguh telah menjalankan perannya sebagai playmaker dengan sangat baik, aku mengibaratkan dia seperti Lionel Messi, anak berbakat yang memang lahir untuk bermain bulutangkis, sungguh memukau dan unpredictable. Flick serve, return service, dan penempatan bola yang dilakukan oleh si "Tangan Petir" kerap kali membuatku berdecak kagum dan berpikir tidak habis pikir. Sungguh Indonesia patut bangga memiliki mereka sebagai ganda putra terbaik!

Hongkong Open 2017
Tahun 2017 adalah tahunnya Duo Minions, mengikuti 10 turnamen superseries dengan berada di final sebanyak 8 kali dan menjadi juara sebanyak 6 kali membuat mereka menjadi ganda putra terkaya saat ini dengan kekayaan mencapai Rp 3,121 miliar. Wow, jumlah yang fantastis bukan! Hingga saat artikel ini ditulis, mereka masih akan bersiap untuk mengikuti turnamen puncak world superseries yang akan diadakan di Dubai pada bulan Desember nanti, apabila mereka menang, mereka masih punya kesempatan untuk menambah pundi-pundi penghasilan mereka sebesar Rp 1,1 miliar. Kerja keras, semangat pantang menyerah, dan keuletan yang dipertontonkan dalam setiap pertandingan membuat mereka layak mendapatkan semuanya.