Entertainment | WaLkin' With You...
 
 
 
Copyright © WaLkin' With You...
Design by Dzignine
Showing posts with label Entertainment. Show all posts
Showing posts with label Entertainment. Show all posts
Tuesday, December 29, 2020

8 Pelajaran Bisnis dari Drama Korea Itaewon Class

Hai, how's your day? Semoga tetap sehat dan semangat di tengah COVID-19 ini ya! Kalo kemarin aku sempet sharing tentang nilai kehidupan yang bisa kita ambil dari drakor Itaewon Class yang aku bagi jadi 2 part, part 1 bisa kalian baca di sini, part 2 bisa kalian baca di sini. Nah, postingan kali ini adalah yang terakhir tentang Itaewon Class, tapi spesial mau ngebahas tentang pelajaran kehidupan ketika menjalankan bisnis ala Itaewon Class! Nah kalian bisa liat jeda waktu antara tulisan terakhirku di bulan Juni dengan yang terbaru ini, haha.. itu kenapa aku selalu bilang kalo nulis itu butuh konsistensi di tengah gempuran badai kehidupan. Baiklah, tanpa berlama-lama lagi, selamat membaca ya guys! ^^

1. Menu andalan
Di dalam drakor ini, ketika Jo Yi Seo - si bocah petakilan yang menawarkan diri sebagai manager pub DanBam diizinkan oleh Park Sae Ro Yi memberikan kritik terkait bisnis yang baru dimulainya ini. Dengan gayanya yang nyablak, doi mengkritik terkait menu andalan yang tidak dimiliki. "Harus ada signature dish dari pub ini biar orang tau mengapa mereka harus datang lagi ke sini!". Ga cuma pub yang mejeng di Itaewon (ngandelin jalan yang emang uda hype banget sama anak muda), tapi harus ada kebanggaan DanBam yang dijual.

2. Cita rasa
Jo Yi Seo mencoba makanan yang dimasak oleh Ma Hyun Yi yang dianggapnya sebagai salah satu yang terbaik, ketika dihidangkan Jo Yi Seo langsung memberikan kritik pedas lantaran cita rasa yang biasa. Menarik dari hal ini ketika Jo Yi Seo bertekad bulat untuk memecatnya dan menggantikan dengan chef yang lebih baik, Park Sae Ro Yi dengan ke-idealisme-annya malah memberikan gaji 2x lipat lebih banyak kepada Ma Hyun Yi dan mengatakan bahwa dia percaya kalo Ma Hyun Yi pasti mampu menghasilkan makanan dengan cita rasa wow. Ma Hyun Yi pun tidak menyia-nyiakan kesempatan dan terus berlatih. Well, we all know that practice makes perfect, the rest is history!

3. Penyajian makanan
Jo Yi Seo yang emang pedes mulutnya (haha!) juga ikut mengomentari cara Choi Seung Kwon menyajikan makanan kepada pelanggan. Dia menyentuh bagian dalam piring berisi makanan dengan jarinya, simple thing but matters the most! Makanan yang sudah dimasak dengan cita rasa sempurna juga harus dihidangkan kepada pelanggan secara higienis dan tidak asal-asalan. 

4. Dekorasi
Selain itu, dekorasi juga menjadi bagian penting di dalam bisnis, awal dekorasi DanBam sangat gelap dan tidak menarik, seperti tidak ada hawa kegembiraan di dalamnya. Setelah dilakukan dekorasi dengan sentuhan Jo Yi Seo (lampu-lampu dengan botol sojunya, pub pun berubah menjadi lebih terang, kekinian, dan bernuansa anak muda.

Monday, June 1, 2020

8 Pelajaran Kehidupan dari Drama Korea Itaewon Class (Part 2)

Hai guys! Setelah vakum selama 1 minggu, aku kembali lagi untuk sharing kelanjutan dari life lessons yang bisa kita pelajari bareng dari drakor Itaewon Class. Nah, buat kamu yang belum baca part 1 nya, kalian bisa baca di sini

Baik chingudeul, selamat menikmati dan resapi baik-baik tiap kalimatnya ya ^^

5. Lihat segala sesuatu dari sisi positif!
Park Sae Ro Yi ini adalah salah 1 tokoh yang suka buat aku geleng-geleng kepala karena ga habis pikir, positifnya gila-gilaan! Segala sesuatu pasti terjadi karena ada alasannya dan pasti ada jalan keluarnya! Waktu temen masa kecilnya khianatin dia dengan memberikan kesaksian palsu, dia bisa terima, "it's okay, there must be a reason for you to do this." Ya, emang bener sih Soo Ah ngelakuin itu demi financial support sampai dia kuliah, secara dia yatim piatu dan Soo Ah bilang dia ga sekuat Park Sae Ro Yi.

Waktu pub kecil (DanBam) Park Sae Ro Yi dibeli oleh orang yang ternyata adalah pemilik Jangga (musuh bebuyutannya), saat itu Jo Yi Seo meminta agar Jang Geun Soo yang bekerja sebagai part timer yang merupakan salah satu anak dari Jang Dae Hee (pemilik Jangga) untuk resign agar ayahnya tidak jadi membeli lokasi DanBam. 

Akibatnya Park Sae Ro Yi marah dan meyakinkan  karyawannya bahwa pasti ada jalan keluarnya. Gilanya dia membeli toko di daerah valley yang uda lesu ekonominya, emang gila nih orang, ga habis pikir tapi ya itu, ide membeli tempat di lokasi sepi bukan tanpa sebab, nanti akan aku bahas bagaimana dia mengusahakan yang terbaik untuk tempat itu hingga menjadi hitss!!! Sulit dipercaya bukan? Haha, ditunggu saja artikel selanjutnya ya guys!!

Salah satu yang terbaik adalah ketika dia secara implisit berterima kasih kepada musuh bebuyutannya - Jang Dae Hee. Jika dia tidak menyimpan dendam yang demikian besar, dia tidak akan menyiapkan rencana demi rencana agar siap mengalahkan Jangga, sebuah mimpi yang bahkan tidak digubris dan dipercayai oleh siapa pun yang berada dekat Park Sae Ro Yi saat itu, jujur aku sebagai penonton juga berpikir apa iya? Ya, walo secara sinetron tau akan terwujud, tapi sungguh menarik bagaimana dia menyiapkan strategi demi strategi untuk mewujudkan mimpinya.

6. Didikan keluargamu adalah salah satu pondasi penting dalam prinsip hidupmu! 
Park Sae Ro Yi adalah salah satu contoh anak yang berhasil dididik dalam keluarga benar, prinsip mempertahankan kebenaran jika tidak salah dan berbicara seperlunya (bukan penjilat) dia pegang teguh hingga akhir episode, jujur secara realita sulit untuk tidak berubah di tengah dunia yang makin tidak baik ini. 

Nah sebaliknya, Jang Dae Hee sebagai pemilik Jangga menanamkan didikan super keras dan otoriter kepada Jang Geun Won (musuh pertama 
Park Sae Ro Yi). Dia tumbuh menjadi anak manja dan tidak tahu arti kerja keras. Dia pikir uang bisa menyelesaikan segalanya, lagipula untuk setiap kebandelan yang dia lakukan, ayahnya pasti akan jadi orang terdepan yang akan membela dan melindungi dia dengan cara apapun, termasuk yang salah.
Ayahnya tidak pernah menyadari secara perlahan namun pasti, ajarannya telah mengubah Jang Geun Won menjadi anak yang keras, menggampangkan segala sesuatu, dan tidak berkembang. Terlebih dia menjadi orang yang sangat temperamental, dia semakin kesal ketika mendengar omelan dan mendapatkan tamparan dari ayahnya, "Dasar, anak tidak berguna!". Ayahnya tidak tahu kalimat-kalimat yang kerap menyakiti anaknya telah terpupuk menjadi dendam dan kebencian yang tiada tara.

7. You have no right to determine my values!
Nah, ini salah 1 kalimat favoritku, kena banget dan emang harusnya diyakini untuk setiap kita, tanpa kecuali. Kalimat ini pertama kali muncul ketika Park Sae Ro Yi berada di dalam penjara dan dia memang terkenal pendiam dan suka menyendiri, Choi Seung Kwon sebagai salah satu anak baru merasa penasaran dan mau bully dia, kasarnya "ngapain lu sibuk baca buku padahal lu lagi di penjara?". Mindset yang muncul adalah kalo lu di penjara, hidup lu berarti udah berakhir dan lu udah rusak, ngapain sok-sok bijak dengan baca buku.

Akhirnya Choi Seung Kwon mengganggu Park Sae Ro Yi karena tidak suka dengan idealismenya. Park Sae Ro Yi memilih untuk tidak menggubrisnya dan tetap membaca biografi Jang Dae Hee, ketika dihina karena prinsipnya untuk terus belajar dan mempersiapkan diri, kalimat ini pun terlontar, "You have no right to determine my values!"

Jujur aku sukaaaaaaaa banget waktu kalimat ini diungkit sama Park Sae Ro Yi, dia ingin menunjukkan bahwa sekalipun dia berada di penjara, siapa pun ga berhak menilai bahwa dia ga berharga. Status narapidana ga bisa membuat dia berhenti melakukan apa pun untuk menambah value hidup dia.

Monday, May 25, 2020

8 Pelajaran Kehidupan dari Drama Korea Itaewon Class (Part 1)

Hai semuanya, apa kabar kalian di tengah-tengah masa liburan dan work from home di tengah pandemik Covid-19 yang belum menemukan titik terang? Mari berdoa agar semuanya segera berakhir dan kehidupan kembali normal..

Nah, pekerjaan yang superb membuatku vakum lama dari dunia per-drakor-an, selain itu juga makin milih-milih apa yang mau ditonton, jujur uda males banget nonton drama percintaan ala Goo Jun Pyo dan Geum Jan Di, too drama. Dari dulu uda suka alur cerita drakor yang seperti I Hear Your Voice, While You Were Sleeping, Pinochio, dll. Kurang lebih pemain dan writernya itu-itu aja, haha!

Baru beberapa hari ini aku kelarin 1 drama yang aku sebenarnya menghindari karena kurang demen sama artis cewenya, tapi akhirnya kupaksakan nonton karena banyak banget orang sekitarku saranin aku nonton drama ini. Alhasil setelah aku nonton, baru episode 1, uda mewek dan yakin banget ini akan jadi salah satu drama korea terbaik yang pernah aku tonton. Yap, drama ini adalah Itaewon Class (IC)!

Bener aja, ketika kelar 16 episode yang aku habiskan dalam waktu 1,5 hari saja, aku langsung cari tau tentang rating, penghargaan, atau informasi apa pun terkait drama ini. Drama ini bener-bener beda guys! Berkelas! Nah, saking terkesannya aku sama drama ini, sampai aku memutuskan untuk kembali blogging demi nulis pelajaran kehidupan apa yang bisa kita petik dari drama ini. Hati-hati guys karena review ini mengandung spoiler! Mending sebelum baca ini, kalian nonton dulu, abis itu baru mampir ke blog ini lagi! So, let's start!

Ada 8 pelajaran kehidupan yang ingin aku bagikan kepada semuanya tentang drama korea ini, silahkan dinikmati ya ^^

1. You have no idea how proud i was. I want you to keep living like that, son! 
Kisah ini diawali dengan Park Sae Ro Yi yang baru saja pindah ke sekolah baru, di hari pertama dia sekolah, dia melihat sendiri bagaimana temen sekolahnya di-bully (Lee Ho Jin) dan dia ga tahan untuk membela. Dari situlah semuanya berawal, bahkan ketika guru masuk dan Park Sae Ro Yi melaporkannya, guru tersebut pura-pura tidak melihat dan menyuruh dia untuk duduk saja, alhasil tinju Park Sae Ro Yi pun melayang di muka Jang Geun Won; anak pemilik perusahaan makanan Jangga no 1 di Korea. 

Akhirnya kedua orang tua dipanggil ke sekolah dan Park Sae Ro Yi pun menyadari bahwa ayahnya bekerja di Jangga. Jang Dae Hee sebagai ayah sekaligus pemilik Jangga dari awal kemunculannya emang uda bikin sebel, persis anaknya, ga salah sih ada julukan, "like father like son". Bener-bener keliatan berkuasa dan semena-mena. Jang Dae Hee mengatakan bahwa dia akan mengampuni Park Sae Ro Yi asal dia berlutut dan minta maaf agar tidak dikeluarkan dari sekolah. 

Dasar Park Sae Ro Yi yang "bodoh"! Dia tidak membiarkan harga dirinya terinjak begitu saja, dia bilang "Saya tidak bisa meminta maaf untuk sesuatu yang benar yang saya lakukan, teman saya dianiaya dan bahkan guru pun tidak melakukan apa-apa!" Well, ga seperti tipikal drama korea pada umumnya, akhirnya Park Sae Ro Yi pun dikeluarkan dari sekolah di hari pertama dia pindah sekolah. Ayah Park Sae Ro Yi pun akhirnya mengundurkan diri dari Jangga karena merasa bertanggung jawab atas "kesalahan anaknya".

Park Sae Ro Yi menangis karena sikapnya telah menyusahkan ayahnya, tapi ayahnya menghibur dia dan berkata "Kamu ga tau betapa aku bangga terhadapmu! Apapun yang terjadi, aku ingin kamu terus hidup seperti itu". Kalimat itu sungguh menggetarkan hatiku; ada sisi di mana ayahnya sungguh amat bangga karena telah berhasil mendidik anaknya menjadi orang yang kuat memegang prinsip kebenaran dan tidak takut menjalaninya. 

Aku nangis juga ketika nonton dan aku yakin banyak juga yang nangis ketika nonton drakor ini. Aku sangat sangat tahu gimana susahnya mempertahankan prinsip yang benar (bukan baik) di tengah-tengah dunia yang menentang kita. Butuh niat dan konsistensi yang superb! Namun ternyata itu baru awal dari segalanya. Bonding ayah dan anak hanya bisa terlihat jelas di episode 1 karena ayahnya meninggal karena motornya ditabrak oleh mobil Jang Geun Won.

Di tengah rasa duka yang mendalam, polisi datang ke rumah duka ayahnya dan menawarkan uang sebagai kompensasi agar kasus ini ditutup, begitu tau bahwa pembunuh ayahnya adalah Jang Geun Won, dia segera berlari ke rumah sakit dan berniat untuk membunuhnya, rasa marah yang sungguh bisa dimengerti karena Park Sae Ro Yi hanya memiliki ayahnya sebagai orang yang sangat berarti dalam hidupnya, namun akhirnya digagalkan oleh Oh Soo Ah (teman Park Sae Ro Yi yang kehidupannya dibiayai oleh ayahnya). Akhirnya, Park Sae Ro Yi malah dipenjara selama 3 tahun, lagi-lagi ingin menunjukkan bahwa uang sungguh berkuasa membungkam apa pun, bahkan hukum sekalipun! Mimpi Park Sae Ro Yi menjadi polisi pun musnah karena dia adalah seorang narapidana! 

2. Hasil tidak akan mengkhianati usaha
Kehidupan penjara tidak mudah, bullying pun dihadapi Park Sae Ro Yi pada hari pertama ketika dia tiba, senior di dalam penjara meminta dia untuk berlutut sebagai anak baru di sana, tentu saja tidak dia lakukan, why? Karena dia Park Sae Ro Yi, haha. Alhasil dia dipukul bertubi-tubi, tapi tidak mengecilkan hatinya. Dia sungguh memanfaatkan waktu 3 tahun dia di dalam penjara. Tekad dia saat itu adalah balas dendam kematian ayahnya dengan membuat food company nya mengalahkan Jangga! Siapa yang percaya dia akan berhasil melakukannya? No one!

Dia membaca biografi Jang Dae Hee sebagai pendiri Jangga, mempelajari strategi bisnisnya dan mengatur apa yang akan dilakukannya ketika dia keluar dari penjara. Di salah 1 episode IC, Lee Ho Jin datang menjenguknya dan berterima kasih karena gara-gara dia, Park Sae Ro Yi dikeluarkan dari sekolah dan kehilangan ayahnya. Ternyata dari situ semua berawal, saat ditanya apa yang akan dilakukan Park Sae Ro Yi ketika bebas, dia pun menawarkan bantuan untuk membantu mewujudkan mimpinya (buka restoran - melanjutkan mimpi ayahnya yang belum tercapai!).

Bantuan yang tidak sembarangan diucap karena Lee Ho Jin mengambil jurusan bisnis keuangan yang membuat dia mengerti cara investasi uang, Park Sae Ro Yi pun memercayakan seluruh uang dari asuransi kematian ayahnya untuk dikelola Lee Ho Jin. Bukan hanya sekedar membantu, Lee Ho Jin juga ingin balas dendam kepada Jang Geun Won, yang telah mem-bully dia selama 3 tahun.

Setelah bebas dari penjara, Park Sae Ro Yi bekerja serabutan demi mengumpulkan uang selama 7 tahun, tidak diceritakan seberapa keras namun akhirnya dia berhasil membuka sebuah pub di daerah Itaewon dengan cara sewa, salah 1 daerah yang cukup bergengsi dan ternyata dekat dekat salah 1 pub milik Jangga.   

Kalau dipikir-pikir, sepertinya mustahil seorang napi dan SMA yang tidak lulus berhasil melakukannya, tapi ya itu, tidak ada yang mustahil untuk dicapai selama kita masih hidup! Dia tidak membuang waktu selama 3 tahun di penjara dan 7 tahun kerja serabutan, semua dipersiapkan dengan matang, ga kebayang betapa keras usahanya demi mewujudkan mimpinya; yang awalnya mendapatkan "cibiran" dari orang sekitarnya, "mana mungkin". Tapi itulah Park Sae Ro Yi, tidak menyerah dan yakin sama kemampuan dirinya. Ya, memang secara dekorasi dan kualitas masih kalah jauh dengan pub Jangga, tapi itu adalah langkah awal dari mimpi-mimpi lainnya yang belum terwujud. 

Sunday, February 7, 2016

15 Tips Parenting ala Song Il Kook

Ga ada yang bisa memungkiri bahwa Song's triplet (DaeHan, MinGuk, dan ManSe) adalah anak-anak yang sangat lucu, ngegemesin, sopan, dewasa, dan terkadang bandel. Keceriaan yang ditampilkan triplet kepada kita melalui acara The Return Of Superman yang tayang setiap hari Minggu di Korea tidak lepas dari didikan orang tua mereka yang handal (aku berikan 4 thumbs up for being so great in educating tiplet). Sekarang aku akan membahas gaya parenting si appa yang aku yakin merupakan salah satu faktor utama yang menjadikan kita begitu menyukai triplet yang tak lain dan tak bukan adalah hasil kerja keras appa dan omma :)



1. Be patient when educating children
Dalam menghadapi triplet yang aku yakin tidak mudah, appa memilih untuk bertahan dan sabar dalam menanggung segala sesuatu (kayak ayat Alkitab ya, haha) dibandingkan harus emosi dan marah kepada mereka. Ketika hendak ke dokter gigi, appa memilih untuk menunggu dengan sabar ketika mereka enggan pergi dari rumah dan memilih untuk bermain di Song’s cart. Appa memilih untuk memberikan mereka waktu agar mereka tahu bahwa tidak ada gunanya jika lain kali mereka berontak atau ngambek karena mereka enggan pergi.

2. He is so well prepared in everything!
Kamu akan kagum melihat bahwa appa adalah orang yang sangat “peka” dan well prepared dalam melakukan segala sesuatu. Bukti bahwa dia sungguh appa yang ready adalah kepiawaiannya dalam memasak, ada begitu banyak jenis makanan yang sudah dinikmati triplet, dari nasi kari, ayam ciapo, dumpling, bahkan appa pernah begitu niat menggunting seaweed menyerupai dinosaurus karena tau triplet begitu cinta sama dino. Ketika hendak camping pun, appa pun melakukan survei terlebih dahulu. Hal yang sama dilakukan ketika hendak mengikuti lomba mendayung dengan perahu buatan sendiri, appa rela begadang demi membuat sketsa perahu yang kuat dan aman dinaiki oleh triplet. Paling salut sama appa yang bela-belain ambil SIM agar bisa mengajak seluruh keluarga TROS untuk berkeliling ke Jejudo dengan bis yang dia kemudikan sendiri dimana 1 minggu sebelumnya dia sudah pergi dan melakukan survei jalan seperti apa yang dilalui, my respect for you, Sir 1958! Btw, apakah kalian memperhatikan bahwa appa selalu membawa bangku hijau dan bib untuk lunch/dinner ketika bersama triplet? :p

3. Mixing childcare while exercising
Appa membuktikan bahwa dirinya adalah seorang yang jenius, menjaga anak sembari berolahraga, dari setiap episode yang ditonton, kamu akan melihat bahwa appa mengendarai sepeda sembari mengaitkannya dengan 3 kereta kecil yang berisi triplet, dikenal dengan nama Song’s piercer. Terkadang appa juga menggunakan Song’s cart yang berisi 3 kotak kecil yang diderek appa ketika mengantar mereka ke childcare dekat rumahnya. Sungguh jenius appanya triplet!
Song's Piercer
Song's Cart
4. Teaching them as polite as possible
Appa yang pertama kali berinisiatif menjadi teladan dan mengajari mereka untuk berbicara dan bertingkah laku sopan, selalu menggunakan “yo” di setiap akhir kalimat yang diucapkan, ketika mereka masih kecil, ada banyak perkataan yang salah diucapkan, appa tidak memarahi mereka, namun mengajak mereka mengulangi perkataan tersebut dengan benar. Begitu juga dengan manner, appa tidak segan-segan mengajari mereka untuk give bowing ketika mengucapkan salam/menyampaikan rasa terima kasih kepada orang-orang sekeliling, sama ketika appa hendak memberikan jelly, appa mendorong triplet untuk menunduk dan mengucapkan terima kasih terlebih dahulu baru mereka dapat menyantap jelly kesukaan mereka. Appa jugalah yang paling sering mengajak mereka untuk berkunjung ke village belajar pansoori (nyanyian daerah), belajar peribahasa, sopan santun dan etika ketika berada di luar dan bertemu dengan orang yang lebih tua. Yang menarik adalah kebiasaan tersebut tidak hanya dilakukan, namun juga terus dilakukan ketika beraktivitas di luar, hal itu sangatlah baik bagi triplet untuk sadar bahwa kebiasaan bertingkah laku baik harus terus dilakukan di manapun kita berada.

5. Teach us how to respect the elders!
Dari tiap episode begitu nyata terlihat bahwa appa terus mengajarkan triplet untuk bertingkah sopan kepada orang tua, dia mengajarkan triplet untuk memanggil elder dengan sebutan Uncle, Hyung, Noona, Aunt, dan lain-lain. Hal lain yang diajarkan appa yang menurutku sangat penting, dia mengajarkan triplet untuk menunggu yang paling tua makan terlebih dahulu, baru triplet boleh makan setelah yang paling tua makan. Appa melakukannya tidak hanya sekali, membuat triplet ingat bahkan ketika berada di luar, mereka tidak boleh makan sebelum orang yang lebih tua terlebih dahulu makan.

6. Dia tidak memanjakan triplet!
Appa mendidik mereka menjadi anak laki-laki tangguh dan berani mencoba segala sesuatu. Sehabis dihukum dengan thnking chair, appa akan membuat mereka mendorong dan meletakkan bangku mereka kembali di ruang tamu, terkadang ada salah satu dari triplet yang minta appa untuk membawakan bangku karena berat. Appa tidak membiarkan hal itu terjadi, dia tetap menyakinkan mereka bahwa bangku tersebut tidak berat dan harus mereka dorong sendiri. Sama halnya ketika memandikan triplet, appa berusaha untuk terus mengajari mereka menggosok badan atau bahkan saling menggosok agar tidak merepotkan, serta tidak jemu-jemu mengajarkan mereka untuk terus berlatih memakai baju sendiri, tak lupa pujian pun dilontarkan jika mereka berhasil melakukannya. Salah satu bukti bahwa appanya menerapkan disiplin yang baik ketika membawa triplet untuk mengikuti pelatihan militer dan membuat mereka menjalani hari-hari seperti seorang tentara! Cute!

7. How to share everything, especially food
Appa yang berinisiatif untuk terus mengajari mereka berbagi makanan dengan tidak jemu-jemu, alhasil triplet tumbuh menjadi anak yang tidak pelit untuk berbagi, bahkan dengan paman cameraman saat syuting TROS dilakukan. Ada episode dimana appa mengajari mereka berbagi dengan meletakkan 1 stroberi pada 1 mangkok, tentu semua ingin makan stroberi. Namun bagaimana caranya agar ketiganya dapat kebagian 1 buah stroberi? Awalnya MinGuk jatuh ke dalam pencobaan dengan memakan habis stroberinya, namun appa menghukumnya kemudian dengan tidak memberikan stroberi ke-2 kepadanya. Hal itu akhirnya membuat semuanya sadar bahwa 1 stroberi pun dapat dimakan bersama asal kita mau berbagi :)

8. He is so creative in everything!
Ga ngerti dan ga abis pikir dengan kreativitas appanya yang ga ada matinya. Sewaktu appa hendak membuat foto passport untuk triplet dengan kameranya, as you can guess, triplet ga bisa berhenti bertingkah lucu dan ngegemesin, appa sampe bingung harus bagaimana agar bisa mendapatkan foto yang baik. Appa pun tidak habis akal, dia segera merancang kameranya dengan kaca yang sudah tersambung dengan tab yang menampilkan kartun “Robocar Polli”,taraa! Hal ini pun berhasil, triplet begitu terpaku menonton kartun dan appa sibuk jepret mencari angle terbaik, it’s a success! Ada juga episode dimana appa menggambar sendiri tokoh dalam dongeng Putri Duyung yang kemudian ditampilkan sebagai pertunjukan puppet Mermaid kepada penontonnya yang adalah triplet, this is really cute! Ada juga episode appa pergi ke studio foto dan mendandani triplet seperti dongeng Putri Duyung dan 3 Little Pigs, serta memotret mereka, hasil akhirnya terbitlah buku dongeng Putri Duyung dan 3 Little Pigs dengan gambar triplet yang ngegemesin abis! Jangan diragukan juga kehebatan appa dalam mendesain fashion untuk triplet yang keren banget! Baju-baju yang dikenakan selalu lucu dan sesuai dengan kegiatan yang akan dilakukan, semua itu pure ide appa, dan bukan pemberian sponsor (oh, how much money do they need :p)
Saturday, January 30, 2016

11 Alasan Mengapa Aku Mencintai DaeHan, MinGuk, dan ManSe

Mungkin karena 10 adalah suat hal yang mainstream, aku akhirnya memutuskan untuk menambah poin yang tadinya 10 menjadi 11 mengenai alasan kenapa aku (bisa jadi kalian) mencintai Song’s Triplet. So, here we go!

1. Cuteness overload
Keimutan mereka benar-benar tidak bisa dipungkiri kebenarannya (entah karena aku bias atau emang begitulah faktanya, tetep maksa :p). Kelucuan, kepolosan, dan tingkah mereka membuatku tidak bisa menahan tawa, bahkan terkadang haru sembari berpikir, “Kok bisa-bisanya kepikiran ngelakuin itu?”. Pada episode perdana kemunculan triplet, ManSe yang bangun pertama kali langsung menyebut kamera dengan “Dinosaurus” yang kemudian diikuti oleh kedua hyungnya, hal ini dikarenakan mereka belum ngeh/sadar betul apa itu kamera, bahkan mereka juga menyebut kamera appanya dengan sebutan “appa gumyung” (Appa’s dino). Video triplet yang menarikan lagu kartun kesukaan mereka, Pororo paling tidak akan membuatmu setuju bahwa mereka sangat imut dan lucu. Sama halnya ketika triplet berkunjung ke pedesaan sebagai scholar pertama kalinya di mana MinGuk dihukum karena mencoret lantai dengan tinta kuas kaligrafi.


2. Tindakan yang unpredictable

Ada episode ketika appa berpura-pura menghukum mereka dengan membawa mereka satu-satu menuju kamar dan ternyata dia sudah menyiapkan robot untuk diajak ngobrol sembari mengetes kepribadian mereka (appa terinspirasi tetangga sebelah yang menggunakan Teddy Bear raksasa, which is appa’s idea is so much better alias lebih masuk akal). DaeHan yang sudah dipanggil robot berkali-kali tidak bergeming, sampai-sampai si robot menghampirinya untuk mengajak bermain, DaeHan tidak bergeming sedikit pun, finally his eyes is rolling to the right side, haha. Bener banget kata appa kalo Dae Han is totally a FM (seseorang yang sangat kaku dan tunduk pada peraturan). 
Next one is MinGuk. Dia sedang dihukum; duduk dan menghadap tembok, kemudian dia mendengar suara robot, awalnya ragu kemudian menoleh, cling. Robot pun mengajaknya bermain, namun dengan sopan, dia berkata, “Sorry, i can’t play with you because i’m being punished right now!” (that’s too sweet MinGuk ah..). Setelah selesai dihukum, barulah dia mengajak robot bermain dan bertanya mengapa dia datang menemui MinGuk. Last one, here is the free spirit ManSe! Haha. Baru aja denger suara langkah kaki robot, ga pake babibu, langsung cling, noleh ke mana asal suaranya, dia langsung bermain bersama robot, bahkan sempet-sempetnya ngasih kiss di belakang kepala robot (ManSe ya, you’ve been watching too many K-dramas, haha).

3. Their appetite is so big! xD 
Yang ini aku yakin banget kalo segenap pencinta TROS pasti setuju 1000% (more than 100%), selera makannya ya ampuuun. Bener-bener dahsyat luar biasa, hal ini terlihat dari menu sarapan yang sudah banyak, ditambah lagi ketika beraktivitas di luar, ada tagline kalimat yang sudah terkenal dari si triplet bila sedang berkunjung ke suat restoran dan menunggu makanan tiba, “Omoni, mamam chuseyo” which means “Aunt, please give us food”, haha. Abis itu ga berapa lama makanan mereka akan tiba dan mereka akan menari-nari kegirangan sembari menyantap hidangan yang sudah ada di depan mata, especially for MinGuk. Dari adegan makan-makan yang selalu ada di setiap episode, aku menyadari bahwa appa telah mendidik mereka untuk tidak memilih makanan dan menyantap apapun yang disediakan appanya. Tahukah kalian bahwa setiap restoran yang dikunjungi triplet bahkan yang berada di pelosok Korea sekalipun tanpa disadari telah membuat masyarakat Korea tergiur untuk ikut mencicipi nikmatnya makanan khas restoran tersebut? Tanpa disengaja, adegan makan triplet menjadi CF yang menggiurkan bagi penduduk lokal dan telah ikut membantu menaikkan perekonomian daerah tersebut.

4. They really love to share
Survey membuktikan (menurutku aja sih sebagai guru Sekolah Minggu alias lebay) anak kecil sulit diajak untuk berbagi dengan teman-temannya. Jangankan ke temannya, berbagi ke cici/koko/adik/saudaranya aja terkadang ga rela (sok analisa lagi :p). Nah, ajaibnya mereka bertiga tidak sungkan untuk berbagi (walau jujur menurutku ManSe yang paling belum rela dan sukanya kebagian berkat dari koko-kokonya, haha) makanan, minuman, giliran bermain, dan lain-lain. Patutlah kita acungi jempol untuk ayah dan ibunya yang mampu mendidik mereka sehingga tumbuh dengan baik. Adegan yang mengharukan ketika appa membelikan es krim untuk dibagikan kepada triplet (siapa sih anak kecil yang ga suka es krim), DaeHan as a hyung memberikan teladan dengan membagikan es krim kepada MinGuk dan ManSe (perhatikan kebiasaan DaeHan yang selalu menjilat bersih sisa sendok/garpu yang diberikan sebelumnya kepada orang lain), berikutnya MinGuk yang duduk di tengah dan berbagi kepada hyung dan dongsengnya; appa pun berucap untuk selalu berbagi satu dengan yang lain, eh.. si MinGuk malah menyodorkan sesendok es krim kepada appanya (this is really sweet). Sekilas terlihat bahwa ayahnya terharu dan menahan air matanya. They really know the joy of sharing, yup, the joy, ga mungkin kita mengasihi tanpa memberi bukan?

5. They teach us how to be a polite and well-behaved person since we were a kid!
Perhatikan bagaimana triplet selalu menggunakan “yo” yang adalah bahasa formal di setiap akhir kalimat yang diucapkannya kepada siapa pun. Ketika melihat anak tetangga TROS, hanya triplet yang diajarkan untuk mengucapkan “yo” dan memberikan bowing kepada orang yang lebih tua. Tentu pernah triplet keceplosan berbicara bahasa banmal (informal) kepada yang lain. Appa pun dengan cepat mengoreksi perkataan triplet, and guess what? Appa is the one who has the initiative to speak dan teach them to speak formally. Appa dan Omma juga menggunakan bahasa formal agar lebih menghargai satu sama lain. Ketika umur triplet masih kecil pun, ucapan “chuseyo” dapat menjadi “chuceyo”, namun appa mengulanginya sekali lagi dengan “chuseyo”, tidak menegur namun mengucapkan sekali lagi agar triplet mengerti pengucapan yang benar.

6. Love everyone around you freely
Sejak kemunculan perdana triplet, ada begitu banyak cinta yang diterima oleh mereka. Interaksi yang terjadi ketika mereka bermain keluar bahkan ketika mereka dikunjungi oleh orang lain membuktikan bahwa mereka (atau mungkin anak kecil) sungguh begitu sederhana, mereka menyayangi Ryu Hyun Jin, Lee Hwi Jae, Choo Sung Hoon, Sa Rang, Twins, Quintet dengan apa adanya. Mungkin inilah kenapa mereka begitu cepat akrab dengan orang lain, mereka menyukai seseorang dengan bebas dan tulus tanpa memikirkan kemungkinan terburuk apa yang akan terjadi jika berteman dengannya.


Friday, January 22, 2016

DaeHan MinGuk ManSe

Jumpa lagi denganku! Sesuai janji kemarin di posting sebelumnya mengenai The Return Of Superman, aku akan membahas sifat dan karakter dari masing-masing si triplet. So, here we go!



Nah, mari kita bahas satu per satu dari si triplet dan siapa yang menjadi favoritku, hehe.. the first one is Song Dae Han, jika kalian cukup sering menonton, ada cukup banyak julukan untuk si sulung ini; Daehoney (mungkin karena dia manis?), Dae Han the reliable one (karena dia emang benar-benar sosok hyung yang bisa diandalkan), Dae Han dad’s boy (why? Makin sering menonton acara ini, kamu akan setuju denganku bahwa dia memang benar-benar mencintai sang ayah alias si appa-bahasa Korea untuk ayah xD).

Dae Han.. Menurutku dia sulung yang sangat sangat bisa diandalkan, bahkan ketika di dalam kandungan, dia berada di paling bawah dan menopang kedua adiknya, Min Guk dan Man Se. Appa juga bercerita hingga usia 1 tahun, mereka (suami dan istri) begitu sibuk mengurus kedua adiknya; Min Guk karena menderita severe atopy dan Man Se yang begitu kecil saat dilahirkan (hanya 1,7 kg). Terkadang Il Kook merasa bersalah karena tidak memberikan kasih sayang yang berlimpah kepadanya. Oleh karena itu, orang tua mereka berusaha untuk mengajari agar kedua adiknya menghormati dia; dimulai dari hal yang sederhana, dengan memanggil hyung misalnya.


Pertama, menurut pendapat pribadiku ketika menonton acara ini, Dae Han sungguh-sungguh sosok yang sangat dewasa bahkan mungkin terlampau dewasa untuk anak kecil seusia dia. Ada 2 episode dimana aku menyaksikan bahwa dia dengan susah payah menyeret tas ayahnya karena dia mungkin merasa takut tasnya akan hilang sekaligus terbeban sebagai anak pertama untuk menjaga dengan baik tas ayahnya. Jujur aku takjub melihat episode ini, lebih ke “gak abis pikir” kok bisa-bisanya dia berpikiran untuk melakukan hal itu sementara kedua adiknya sudah asik entah berbuat apa (Episode 37 dan 38). Ada beberapa episode dimana dia sebenarnya sudah diizinkan appa untuk menyantap makanannya duluan, namun begitu sayangnya dengan dongsengnya, dia rela untuk membiarkan mereka mencicipinya terlebih dahulu dan kalau kalian sering memperhatikan, dia selalu (bahkan rela) menjilati sisa makanan dari sendok yang sudah diberikan kepada orang lain.

Kedua, dia benar-benar memberikan contoh dan teladan yang baik bagi kedua adiknya. Ada episode dimana mereka pergi melakukan vaksinasi dan menunggu giliran untuk disuntik, dasarnya si Dae Han emang plegmatis (dimana dia terlalu cuek dan suka lupa dengan kejadian sekitarnya), dengan polos dan tidak paham kondisinya (kedua adiknya sedang menangis sekeras-kerasnya karena enggan disuntik) dia masuk, duduk di depan dokter, dan cuss.. dia disuntik tanpa menangis (well, no crying at all..) Well, ini adalah bagian dimana aku juga terkejut, kok bisa anak sekecil ini tidak menangis? Sekilas mencoba menempatkan diri sebagai Dae Han, sepertinya dia melihat bahwa sang appa sedang sibuk menenangkan kedua adiknya yang rewel sehabis disuntik, akhirnya dia memberanikan diri untuk maju dan paling enggak dapat meringankan beban si appa yang cukup stres saat itu. Amazing! (Episode 50).

Ketiga, dia adalah sosok hyung yang benar-benar baik dan bisa diandalkan. Bahkan dari dari usia 27 bulan, dia sudah dapat memimpin adik-adiknya ketika bermain, untuk tidak menyentuh yang memang bukan mainan (ketika Man Se usil memainkan remote AC yang menempel di dinding: Episode 34). Ketika kamu menyaksikan beberapa episode, ada beberapa peristiwa yang syukurnya direkam dengan baik oleh cameraman, dimana dia berusaha untuk melindungi dongsengnya (Min Guk dan Man Se) dari beberapa hal (ketika ayah mempersiapkan diri untuk perlombaan triathlon; appa yang membiasakan agar anak-anak tidak takut di dalam air, berenang bersama triplet sekaligus; saat itu kamera menangkap bahwa Dae Han meletakkan tangannya di belakang punggung Man Se untuk menopangnya.. how cute.. Episode 82). Ada juga kejadian di episode awal, ketika Dae Han menegur Man Se untuk diam ketika sang ayah berbicara dengan mencubit sedikit saja tangan Man Se (Episode 54). Ada juga episode 50 ketika Man Se makan mie instan dengan udang dan menyisakan 1 mie yang panjang, Dae Han membantu dengan mengangkat mie tersebut untuk memastikan bahwa Man Se memakannya hingga habis. Episode 60 dimana dia membagi buburnya kepada Min Guk ketika Min Guk terlalu asik bernyanyi sehingga papanya mengira dia tidak menginginkan sarapannya. So sweet!

Keempat, Dae Han memang benar-benar cocok lahir sebagai si sulung dengan sifat yang agak kaku karena dia taat atau mungkin sangat taat terhadap peraturan dan mencintai kebersihan. Appa pun sering menyebutnya dengan julukan FM (Field Manual) yang berarti adalah total rule follower. Ada episode dimana dia sedang makan dan minta dibersihkan mulutnya oleh appa, kemudian Man Se celetuk kepadanya bahwa tidak apa ketika makan menjadi kotor karena memang itu sudah sewajarnya. Ada juga episode 68, ketika hendak sarapan, Dae Han menyadari bahwa bangku makan yang ditempatinya adalah milik Min Guk karena ada baretan di mejanya (What???). 

Episode 110, dimana ayahnya mengetes kepribadian mereka dengan mengirimkan robot yang konon hanya bisa dilihat oleh anak-anak; appa membuat setting-an seolah-olah sedang dihukum, menyuruhnya untuk masuk ke kamar dan mengambil bangku, serta duduk menghadap tembok, bahkan ketika robotnya berjalan hingga ke sampingnya untuk mengajaknya bermain, dia hanya menggerakan ujung matanya tanpa menyentuh atau bahkan bermain dengan si robot (he is totally a FM!). Jujur aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat keunikan dia yang ini. Sebenarnya masih banyak kejadian dan sifat Dae Han yang lain, namun aku memutuskan untuk fokus pada empat sifat utamanya yang hampir selalu muncul di tiap episodenya. By the way, he is actually my second favourite after Min Guk ^^
Wednesday, January 20, 2016

New World: The Return Of Superman!

Hai semuanya.. Happy New Year 2016! Sudah lama ga menulis, lagi ada banyak hal di kepala yang mau ditulis (pembicaraan dari kapan tahun :p). Akhirnya memulai kembali menulis dengan topik yang lagi hangat-hangatnya.. Selamat membaca! :)

Akhir-akhir ini aku sedang keranjingan satu variety show Korea yang memang lagi nge-hits banget di Korea. Bagi orang-orang yang mengenalku, seharusnya mereka tahu program apa yang dimaksud. Iyap, The Return of Superman (TROS), reality-variety show Korea yang menyajikan kehidupan nyata dimana para ayah yang sebagian besar berprofesi sebagai entertainer di Korea berjuang selama 48 jam untuk menjaga anak-anak mereka tanpa dibantu oleh si ibu.
The Return Of Superman's Cast before Lee Dong Gook Joins
Mengapa acara tersebut menarik bagiku? 

Pertama, karena setiap kita tentu tahu dan setuju bahwa merawat dan mendidik anak bukanlah perkara yang mudah. Ada begitu banyak perjuangan dan pengorbanan dari segi waktu, tenaga, dan uang yang dikeluarkan oleh orang tua - terutama Ibu. Acara ini memiliki ide anti mainstream karena berani menawarkan acara mengasuh anak yang wajib dilakukan oleh ayah tanpa campur tangan ibunya (sungguh menarik :p). 

Kedua, lokasi syuting di rumah dibuat senyaman mungkin dengan menggunakan rumah kecil atau tenda dimana para VJ (cameraman) sibuk bersembunyi sembari merekam dan mencari angle terbaik untuk mengambil gambar. Hal ini dilakukan agar anak-anak tidak merasa takut atau kaget sehingga mereka dapat bermain dan bergerak seperti yang biasa mereka lakukan sehari-hari. Jika kalian memperhatikan dengan seksama, kalian akan menyadari bahwa para kru bekerja dengan sangat profesional sehingga tidak mengganggu keseharian mereka. Tentu akan lain ceritanya jika mereka melakukan kegiatan outdoor.

Ketiga, acara ini bukan reality show dengan ide murahan karena dirancang secara khusus untuk mendekatkan para ayah dengan anak-anak mereka. Kita semua tentu tahu bahwa jawaban para anak ketika ditanya lebih dekat dengan ayah atau ibu, hampir sebagian besar mereka akan menjawab dengan ibu. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa sang ibulah yang berperan sangat besar di dalam tumbuh kembang sang anak, sedangkan ayah biasanya sibuk mencari nafkah. Hal inilah yang membuat sang produser membuat acara ini; dimana para ayah yang disebut sebagai Superman dituntut agar dapat menyelesaikan misi yang diberikan oleh masing-masing istri dan bermain dengan anak-anak mereka. Jangan kaget ketika awal-awal melihat para ayah kesulitan dan akhirnya sepakat mengakui dan berterima kasih kepada para ibu, serta tidak ragu untuk memuji bahwa mereka telah melakukan yang terbaik dalam mendidik anak-anak mereka.

Terakhir namun tidak kalah penting, acara ini memberikan pelajaran dan cara yang benar (baik belum tentu benar kan :p) bagaimana merawat, memuji, menegur, bahkan mendidik anak-anak jika mereka berbuat salah.
Para ayah yang menjadi pemeran TROS awalnya tidak bersedia tampil karena enggan berbagi dengan masyarakat luas mengenai kehidupan pribadi mereka. Namun setelah dibujuk sedemikian rupa oleh prosedur acara, mereka bersedia tampil di TV dengan risiko mereka harus siap berbagi kehidupan pribadi mereka dengan para penonton.

Nah.. Berbicara mengenai TROS, aku mau berbagi sedikit bagaimana pada akhirnya aku bisa jatuh cinta setengah mati sama acara ini. Awal mula ceritanya sungguh sederhana, aku biasanya membaca berita seputar Kpop dari Koreanindo, Allkpop, dan Soompi. Ketika aku membaca Soompi, aku tertarik untuk meng-klik dan membaca satu judul artikel yang menyebutkan bahwa Song Il Kook dipuji oleh psikolog anak karena kepiawaiannya dalam mendidik anak (silahkan di-klik jika penasaran :p). Dalam hatiku terpikir, “emang kayak gimana dia ngedidik anak sampai dipuji psikolog anak begitu piawai?”. Dimulai dari rasa penasaran yang sangat sederhana dan kecintaanku pada dunia anak-anak, aku pun meng-klik dan mulai membaca artikel tersebut, disebutkan nama acaranya adalah The Return Of Superman, sepertinya menarik juga (begitu pikirku pada awalnya).


Rasa penasaranku pun semakin berlanjut, mulailah aku buka Youtube dan mencari judul acara tersebut, ternyata banyak dan mudah ditemukan, bahkan sudah disediakan secara cuma-cuma oleh KBSWorld TV, salah satu dari tiga stasiun televisi yang terkenal di Korea (bagi yang sudah sering mondar-mandir di dunia Kpop pasti tidak asing dengan 2 stasiun lainnya). Kemudahan yang sudah disediakan secara cuma-cuma ini pun tidak aku sia-siakan, aku mulai mencari tentang Song Il Kook, ternyata anaknya triplet, alias kembar tiga. 
Wah, kembar tiga, makin besarlah rasa penasaran ini, aku sampai bela-belain googling cari episode perdana triplet.

Episode 34 adalah episode perdana di mana Song Il Kook dan triplet muncul, pertama aku mencoba untuk menonton anak-anak yang lain, namun dasar emang uda naksir, bawaannya uda langsung skip-skip hingga aku menemukan bagian triplet. Aku rasa salah satu faktor yang paling mendukung sehingga aku begitu cepat jatuh cinta karena pada dasarnya aku suka anak kecil. 

Dunia mereka yang begitu sederhana membuatku begitu tertarik. Song Il Kook’s triplet itu bernama Dae Han, Min Guk, dan Man Se. Pertama kali melihat mereka aku sudah punya feeling bahwa memang pantas untuk diikuti karena tingkah mereka yang menggemaskan :p 

Berikut adalah denah apartemen appa yang digunakan sebagai lokasi syuting, ternyata apartemen di Korea itu besar, tidak seperti di Jakarta yang cenderung sempit dan dikit kamarnya.

Mengapa si triplet dan bukan yang lain?