| WaLkin' With You...
 
 
 
Copyright © WaLkin' With You...
Design by Dzignine
Friday, August 10, 2018

Keuntungan dan Kerugian Tour Travelling

Halo semua, balik lagi dengan tulisan yang niatnya mau berusaha konsisten untuk nulis dengan konten travelling, doain ya para pembaca, lagi agak vakum dari kesibukan dunia sehingga punya waktu untuk blogging :p

Topik kali ini masih di konten yang sama yaitu penulis mau ngebahas serunya travelling dengan ikut tur, dari sisi plus dan minusnya, well dalam setiap keputusan yang diambil akan selalu ada sisi pro dan kontranya (cie, lagi bijak :p). Penulis akan ngebahas dari sisi keuntungan dulu, eh kerugian dulu deh, karena penulis suka save the best for the last. So, check it out ya guys, here we go!

1. Cape fisik aja
Kenapa fisik aja? Bagi yang pernah ikut tur pasti tau gimana capeknya ngikutin jadwal tur yang padat banget dari pagi sampai malam, bahkan kadang-kadang demi pindah lokasi yang oke, subuh-subuh banget kudu bangun buat check out dan akhirnya habisin waktu di bis untuk tidur – yang kadang ga semua orang bisa pelor (nempel molor), untuk orang seperti itu penulis termasuk yang susah tidur dengan cepat, huff. Atau sebaliknya, bisa sibuk ke sana sini sampai larut malam banget jadi ga sempet nikmati hotel yang bagus, pulang-pulang berasa banget badan pengen cepet nempel kasur.

2. Biaya tidak sesuai janji
Ini kebiasaan yang sering bahkan kayaknya uda berusaha dimengerti oleh apra traveller, imho ya pengalaman di tur Indonesia itu pas lihat iklannya di koran misal per orang kena 20 juta, begitu cek ke website resminya 25 juta, begitu coba telepon ke CP turnya tau-tau uda 30 juta belum lagi ditambah biaya tour guide dan biaya tambahan masuk suatu arena, dll, dll. Duh, males banget – ngeselin sih kadang, maap penulis baper.

Actually bukan keberatan di masalah biaya, cuma kadang traveller itu begitu bayar lunas di muka, pengennya pure jalan-jalan dan nikmati apa yang uda dibayar tambah embel-embel lagi, kan uang lebihnya bakal dipake buat belanja, kalo masalah tips guide sih penulis no problem ya, it’s a common thing.

3. Membosankan
Ini adalah reason yang belum tentu semua orang setuju, kadang acaranya gitu-gitu aja: makan-jalan-makan-jalan-makan-jalan-belanja-pulang-tidur, gitu terus, jadi sedikit membosankan. Terkadang mungkin bakal jarang nemuin sesama anak muda karena biasanya yang rajin ikut tur gitu adalah para orang tua yang emang males rempong urus sana-sini dan cuma mau terima jadi dan beres aja. Tidak menutup kemungkinan bisa ketemu sama sesama anak muda yang pasti lagi jalan sama orang tuanya juga, tapi peluangnya sedikittt.

Membosankan di sini bisa juga dalam arti menunggu, misal nih kamu adalah karyawan yang bakal pergi demi ngabisin cutimu yang bukan high season, kamu bisa nunggu entah sampai kapan kuota akan penuh sembari berharap-harap cemas perjalanan tidak dibatalkan karena uda bayar dan emang niat mau abisin cuti. Ide bagusnya adalah kalo kamu bisa boyong keluarga besarmu yang se-RT (lebay) dan langsung bisa nutupin kuota yang ada atau sisa kuota yang mungkin cuma perlu 10/15 orang.

4. Tidak sesuai keinginan
Bukan lagi nyalahin tur, based on writer’s experiences yang ga banyak, kadang suka diajak ke tempat yang kita ga mau, bahkan ga terpikir, penulis ngalamin waktu pergi ke daerah-daerah di Tiongkok (kalo mau ngelilingi seluruh kota di Tiongkok ga bakal cukup pergi sekali aja kan), kamu biasanya dan hampir selalu pasti (lebay :p) diajak mengunjungi entah toko sutera, toko giok, toko teh, toko pisau, atau toko apa pun – kadang agak kasar karena kesannya kita dipaksa untuk beli produk mereka, sampai memohon untuk beli karena mereka dapat target untuk berhasil menjual. Akhirnya dalam suatu tur kita 1 rombongan pernah sepakat buat ga beli apa pun karena ngerasa diperas dan ada 1 kepala geng yang bilang ke guide kalo tujuan jalan-jalan itu buat have fun dan belanja yang emang sesuai keinginan sendiri bukan based on torture.
Coba bayangin, ga minat ke sini tapi diajak ke sini T_T
Pernah juga turnya membawa kita ke sinshe-sinshe gitu dan bilang kalo Papa kena suatu penyakit di hatinya dan dipaksa beli obat yang kemasannya menarik, kayaknya kalo ga nahan berasa kayak dihipnotis gitu. Akhirnya aku malah berantem sama dokter dengan bahasa Mandarin karena dia ngerasa aku lagi cegah papa buat beli obat itu, papa akhirnya beli obat itu terus aku bilang pasti ga diminum dan voila sampai detik ini masih ada di lemari atas tempat tidur dan tidak dimakan sama sekali, dijadiin pajangan aja. It happened in 2011 and it cost 5 millions, duh emosi kalo inget kejadian itu, walo masih kecil berasa banget jiwa ga mau dikibulinnya.

5. Waktu tidak bebas dan terbatas
This is the very main reason why i stop from joining tour in travelling around the world, ga betah banget sama aturan waktu yang serba dibatasin, misal penulis yang lagi travelling liat keajaiban dunia di Tiongkok, salah satunya The Great Wall. Baru aja sampe di sana, guidenya langsung bilang waktunya 40 menit ya untuk foto-foto dan jalan-jalan di sekitar sini, ga usah jauh-jauh. Whot??? Apa yang mau dipanjat kalo cuma segitu, baru juga sampe di undakan pertama, uda keburu habis waktunya, belum lagi sesi foto-foto yang banyak gaya dengan berbagai sudut. Ah, males!

Oke, penulis sudah jabarkan dengan lengkap ruginya travelling dengan tur based on my own experience. Sekarang kita lanjut yuk ke hal-hal positif dari ikut tur, ga adil kan kalo kita cuma ngebahas sisi negatifnya, so here we go again dudes!
Sunday, April 1, 2018

Travelling is a must!

Mungkin terkesan egois dan maksa banget bagi kalian (yang ga suka travelling) ketika aku milih judul artikel ini, why is it a must? Aku akan bercerita sedikit mengenai pengalaman travelling yang aku alami selama ini sebelum aku jelasin kenapa wajib banget untuk travelling. So, here we go. Travelling di dalam negeri yang paling berkesan sepertinya ketika aku ke Bali bersama keluarga besar dari mamaku, those were the best experiences that I have so far! Bersyukur bisa ikut tur bintang 5 waktu jalan-jalan di Bali, kenapa tur? Karena keluarga kami sudah terbiasa menerima beres dan menikmati momen perjalanan alias ga mau rempong ngurus ini-itu, berhubung waktu itu aku masih kelas 3 SD dan belum tau apa-apa, aku ikut-ikut aja :p
Foto travelling Bali yang dulu diambil dengan kamera
Bali identik dengan tempat yang ada monyetnya. Hm..

Bagaimana dengan travelling ke luar negeri? Well, pertama kali terjadi dalam keadaan terpaksa dan di luar kemauanku, yaitu pas kerusuhan Mei 1998. Kami sekeluarga minus papa terpaksa mengungsi ke luar negeri karena saat itu situasi di Indonesia terutama di Jakarta sudah tidak kondusif lagi, bersyukur karena ada saudara yang tinggal di Singapura dan terus menghubungi kami bahwa media Indonesia kala itu telah dimanipulasi sehingga berita mengenai rencana akan adanya kerusuhan justru kami terima dari mereka yang tinggal di Singapura. I’ll skip that part. 


Us with mom ^^
Travelling ala pengungsi itu terjadi selama 1 bulan, dulu masih berlaku fiskal kunjungan selama 2 minggu, jadi setelah 2 minggu, kami akan pindah ke Malaysia lalu setelah habis 2 minggu, kami akan kembali lagi ke Singapura. Semua terasa lebih mudah karena kami mempunyai saudara yang syukurnya tinggal di kedua negara tersebut. Berawal dari kata “terpaksa” ninggalin kota Jakarta, alhasil karena gak sekolah, kerjaannya di sana cuma makan-mandi-jalan-belanja-foto-makan-tidur begitu seterusnya. Bepergian dari satu tempat ke tempat lain di lain negara membuatku terpesona dan berpikir, “Wah, luar negeri sungguh keren ya, serba teratur dan rapi!”. 

Haw Par Villa yang konon sekarang uda hampir tutup karena teens males ke sini :(
Kecintaanku pada travelling semakin bertambah besar karena ada begitu banyak perjalanan yang aku nikmati setelah 2 momen di atas, semakin banyak travelling, aku semakin mengerti dan yakin bahwa travelling itu asik banget. Sampai di sini, mungkin ada yang ga seneng trus ngatain penulis super lebay. So rather than keep telling non-sense things, i’m gonna tell you why travelling is a must! Berikut adalah alasan terbaik yang aku kutip dari kalimat-kalimat keren tentang travelling: 

1. Travel is the only thing you buy that makes you richer - Anonymous 
Mungkin pernyataan ini agak sedikit lebay karena ga cuma ‘beli’ travelling yang buat kita kaya, ada banyak hal lain juga di luar travelling. Tapi pernyataan ini mau ingetin kita bahwa dengan uang yang kita keluarin buat pergi menjelajahi suatu negara atau tempat baru yang asing bagi kita, kita bakal makin kaya dari segi pengalaman, wawasan, informasi, budaya, dan lain-lain. Kalian sadar ga sih (terutama bagi yang suka travelling dengan nyusun itin sendiri) kalau perjalanan pertama mungkin agak menegangkan, after that slow but sure kepercayaan diri kalian meningkat karena uda makin ngerti gimana mengakali dan menyusun semua yang kita perlukan selama travelling :)

2. Once a year, go someplace you’ve never been before - Anonymous 
Pernyataan ini ga lagi maksa ato nuntut kita buat boros ngeluarin uang dari penghasilan kita untuk jalan-jalan; justru harusnya ini menjadi sebuah titik terang bahwa hanya diperlukan waktu sebanyak 1x dalam setahun untuk kamu travelling ke tempat yang kamu belum pernah kunjungi, after that kamu akan setuju atau terpaksa setuju :p bahwa travelling is a must for you! 

3. I travel a lot; i hate having my life disrupted by routine – Caskie Stinnett 
Mungkin ini salah satu pernyataan yang cocok untuk kalian bahwa travelling itu emang perlu banget terutama kalo kita adalah tipe orang yang mudah bosan dengan rutinitas. Believe it or not, setelah aku melakukan survei kecil-kecilan kepada orang sekitarku yang berusia seumuran, lebih muda, dan bahkan yang jauh lebih tua, mereka semua sepakat bahwa travelling itu perlu banget dilakukan sebagai “pelarian sementara” dari rutinitas kehidupan yang cenderung monoton-membosankan, atau sekedar melepas stres/penat dari beratnya beban hidup dan kerjaan (ciee :p); hm.. istilah kerennya refreshing sejenak dari beratnya hidup ini (apa sih..). 

4. The world is a book, and those who do not travel read only one page – Saint Augustine 
Ini pernyataan yang bener banget, pernah juga jadi caption di salah satu postingan instagram aku. Dunia yang kita tinggalin itu ibarat sebuah buku, kalo kita ga pernah ke mana-mana kita cuma stuck di satu halaman aja. Waktu belum travelling, duniaku itu seputar Jakarta-Cirebon-Bandung-and so on; after doing travelling, aku jadi merasa bahwa “buku” yang aku baca makin bertambah banyak “halaman”nya dengan tulisan dan rasa yang berbeda di tiap halamannya. 

Sunday, December 3, 2017

Hiduplah Indonesia Raya Dukung Bersama Asian Games 2018

Bulutangkis berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah cabang olahraga yang berupa permainan yang dimainkan dengan memakai raket dan kok yang dipukul melampaui jaring yang direntangkan di tengah lapangan; badminton. Topik ini yang pertama kali terbersit di kepalaku ketika kata olahraga muncul, orang sekitarku tentu tahu betapa besar rasa cintaku pada olahraga ini. Perkenalanku pada olahraga ini dimulai dari papa yang selalu menonton pertandingan bulutangkis di televisi, tahun 1998 adalah tahun pertama aku melihat bagaimana para pemain mengayunkan raketnya dengan lincah dan terkadang mengeraskan pukulannya pada kok yang ada. Cerita perkenalanku dengan olahraga ini dapat kalian baca lebih detil di sini atau dengan berkunjung ke instagramku.

Tentu sebagai pecinta bulutangkis kita tidak asing lagi dengan salah satu ganda putra terbaik milik Indonesia yang sedang naik daun saat ini, yang konon katanya disebut-sebut sebagai pengganti Hendra Setiawan-Mohammad Ahsan, iya, mereka adalah Duo Minions (Kevin Sanjaya-Marcus Fernaldi Gideon). Mereka mengawali karir dengan susah payah, tidak langsung mendapatkan kepercayaan dari pelatih/klub tempat mereka bermain sebagai tumpuan utama, mereka kerap kali berada di bawah bayang-bayang ganda putra HS-MA dan beberapa pemain ganda putra lainnya. Namun syukurlah hasil memang tidak pernah mengkhianati proses, berkat kerja keras dan kegigihan mereka perlahan namun pasti mereka semakin dikenal, berprestasi, dan bahkan berada di posisi nomor 1 dunia sebagai ganda putra terbaik dunia.

All England 2017
Mengapa Minions? Karena tinggi badan mereka tidaklah seperti pemain bulutangkis kebanyakan (± 175 cm), Kevin Sanjaya 170 cm dan Markus Fernaldi 169 cm, cukup ‘mini’ untuk standar rata-rata tinggi badan pemain olahraga tepok bulu tersebut. Bahkan ketika mereka berdiri di atas podium sebagai juara 1, tinggi mereka masih dapat dibalap oleh juara 2 bahkan sebelum sang juara 2 berdiri di atas podium. Memang tinggi badan mempengaruhi kecepatan footwork, namun melalui mereka, kita semua belajar bahwa tinggi badan bukanlah faktor terpenting yang harus dimiliki oleh pemenang kejuaraan bulutangkis.

Aku akan menceritakan secara singkat mengapa aku begitu jatuh hati dengan gaya permainan mereka. Berdasarkan pengalamanku yang sering lalu lalang sebagai penonton setia bulutangkis dari berbagai turnamen, mereka selalu menampilkan permainan dengan tempo yang sangat cepat, adu drive, return service yang memukau, flick serve yang terkadang mengesalkan pihak lawan, akting provokasi yang menarik untuk ditonton, dan yang terakhir namun tidak kalah penting daya juang dan semangat pantang menyerah yang sungguh patut ditiru oleh atlet lainnya.

Marcus Fernaldi Gideon bermain sebagai pengeksekusi kok dengan pukulan smash­-nya yang kencang, sang penggebuk yang kerap dijuluki sebagai “Senyuman Matahari” ini memang kerap kali menyusahkan lawan dengan smash-nya yang kencang dan terarah. Marcus itu ibarat Christiano Ronaldo, dia giat berlatih bahkan dalam satu cuplikan wawancaranya dia kerap mendatangi pelatih dan meminta porsi latihan yang lebih agar dapat mengimbangin keterampilan dan kelihaian Kevin dalam bermain bulutangkis. Sedangkan Kevin Sanjaya sungguh telah menjalankan perannya sebagai playmaker dengan sangat baik, aku mengibaratkan dia seperti Lionel Messi, anak berbakat yang memang lahir untuk bermain bulutangkis, sungguh memukau dan unpredictable. Flick serve, return service, dan penempatan bola yang dilakukan oleh si "Tangan Petir" kerap kali membuatku berdecak kagum dan berpikir tidak habis pikir. Sungguh Indonesia patut bangga memiliki mereka sebagai ganda putra terbaik!

Hongkong Open 2017
Tahun 2017 adalah tahunnya Duo Minions, mengikuti 10 turnamen superseries dengan berada di final sebanyak 8 kali dan menjadi juara sebanyak 6 kali membuat mereka menjadi ganda putra terkaya saat ini dengan kekayaan mencapai Rp 3,121 miliar. Wow, jumlah yang fantastis bukan! Hingga saat artikel ini ditulis, mereka masih akan bersiap untuk mengikuti turnamen puncak world superseries yang akan diadakan di Dubai pada bulan Desember nanti, apabila mereka menang, mereka masih punya kesempatan untuk menambah pundi-pundi penghasilan mereka sebesar Rp 1,1 miliar. Kerja keras, semangat pantang menyerah, dan keuletan yang dipertontonkan dalam setiap pertandingan membuat mereka layak mendapatkan semuanya.