| WaLkin' With You...
 
 
 
Copyright © WaLkin' With You...
Design by Dzignine
Tuesday, August 18, 2015

Badminton -- Dirgahayu Indonesia ke-70 ??

Akhirnya menulis lagi setelah "berabad-abad" vakum menulis, agak lebay karena menurutku termasuk waktu yang sangat lama menunda untuk menulis dengan segudang pemikiran dan ide-ide yang berkecamuk di kepala, hehe.. saya ragu dalam memilih ide yang ditulis, ada banyak hal, namun hati ini tergerak untuk menulis mengenai Dirgahayu RI ke-70 dari sisi olahraga yang saya cintai: badminton.

Kalo ditanya apa saya bisa bermain badminton alias bulutangkis? Jawabannya bisa tapi jauh banget dari kata jago/mahir. Saya lebih bisa bermain volley, hehe.. masih teringat ketika dulu masih bentrok dengan jadwal les bahasa Inggris, saya terpaksa ambil ekskul badminton, di sela-sela waktu luang, saya membeli bola volley dan belajar dengan harapan begitu masuk bisa langsung bermain sebagai tim inti. Sepertinya cerita tentang volley harus dipotong dulu, hehe.

Bagaimana saya bisa mencintai dunia bulutangkis? My super dad is the answer :)
Papa saya orang pertama yang mengenalkanku pada dunia ini, saya inget banget bahkan di tengah-tengah sisa kerusuhan Mei 1998, kami masih sempat menonton bulutangkis (saat itu Mia Audina yang bermain untuk turnamen yang saya juga lupa, mungkinkah Thomas dan Uber Cup? ingatan sudah agak blur :p) di dalam kamar Hotel Borobudur, hehe.
Sampai detik ini, beliau masih bermain bulutangkis bersama rekan-rekan setiap hari Rabu dan Sabtu. 

Berapa besar kecintaanku pada dunia bulutangkis? sangaaaat besar.. Mungkin kalau saya tidak berkarier sebagai seorang karyawan, saya akan menjadi atlet, hehe.. Begitu besarnya hingga saya bersyukur siaran tv kabel di rumah ada Star Sports yang hampir konsisten menayangkan turnamen super series di seluruh dunia. Namun sayang, per Juni 2015, tv kabelku tidak menyiarkan Star Sports dikarenakan masih belum terdapat kesepakatan kerja sama (bisa jadi karena bulutangkis semakin naik pamor? Hm.. bisa jadi :p)

Pemain favorit? Jawabannya adalah banyak dan tergantung :)
Saya cukup sering mengikuti jejak pemain yang saya rasa cukup menarik untuk diikuti. Kalo kalian pernah denger Lee Yong Dae (pebultang asal KorSel, harusnya sih uda ga asing karena ke-charming-annya dan mukanya yang sedap dipandang mata, hehe); saya uda cukup tahu mengenai dia, bukan karena ketampanannya, tapi karena staminanya yang patut diacungi jempol. Saya sudah mulai jatuh cinta padanya sejak dia belum terkenal seperti sekarang, jatuh cinta karena dia sanggup bermain di ganda putra dan ganda campuran sekaligus, serta konsisten dalam merebut juara turnamen (we'll skip this one).

Kalau pemain Tiongkok, semua orang pasti tidak asing dengan Super Dan aka Lin Dan, sang pemain yang hingga detik ini sudah mengoleksi 5 gelar juara dunia dan juara dari seluruh turnamen sudah pernah dia kantongi (emang "gila" dia ini). Kepiawaiannya membuatku kadang ga habis pikir itu ide serangan muncul dari mana. Menariknya, he's not my favourite athlete.

Lee Chong Wei, pemain bulutangkis dari era Taufik Hidayat, Peter Gade (2 ini sudah pensiun), dan Lin Dan (masih aktif namun sudah ketutup Chen Long) yang masih konsisten bermain hingga sekarang. Sungguh miris melihat dia dihukum tidak boleh bertanding karena tersangkut kasus doping pada BWF 2014. Menurutku, seorang pemain kelas dunia tidak mungkin melakukan itu, dan benar saja, obat yang dilarang BWF tersebut tidak sengaja dimakan ketika LCW menjalani perawatan untuk cideranya.

Pemain Indonesia? Jujur untuk sektor putri, menurutku masih banyak sekali PE-ER yang harus diperbaiki dan dikerjakan oleh mereka. Selalu gemessss melihat mereka bermain seperti orang berbeban berat dan kurang eager (kadang terlihat lesu menggapai bola). Beda sekali dengan tim Jepang yang menurutku ulet dan tekun luar biasa.

Salah satu fakta yang menarik bagaimana tim Jepang pria berhasil membawa pulang piala Thomas 2014 dengan skor 3-2 setelah melawan tim Malaysia. Masih berbekas dalam ingatan bagaimana pertandingan tersebut sangat berkelas karena saya bisa ngerasain bagaimana ulet dan pantang menyerahnya seluruh tim Jepang. Usut punya usut, ternyata pemain Jepang tidak menjadikan atlet sebagai profesi utama karena belum menjanjikan, jadi paginya mereka kerja kantoran, sore ke malam baru mereka berlatih mempersiapkan turnamen. Harapannya setelah menang, olahraga bultang makin dikenal dan dianggap sebagai olahraga yang berkelas.

Dari sektor putri menarik karena sudah mulai ada nama baru, seperti Carolina Marin (Spanyol) dan Saina Nehwal (India). Jujur saya kurang suka sama teriakan Marin yang kadang terdengar “noisy” banget, namun harus saya akui semangat juangnya sungguh amat tinggi, dan pukulannya berisi (ada tenaga), jadi saat diterima musuh juga bukan sebuah pukulan yang mudah dikembalikan.

Permainan yang selalu saya tunggu, dari dulu hingga sekarang adalah Lin Dan vs Lee Chong Wei. Hampir seluruh penggemar tahu betapa pertandingan kelas dunia ini sangat sangat layak untuk ditunggu. Permainan kelas dunia dengan teknik dan mental kelas dunia, jujur saya sangat berharap agar LCW bisa mendapatkan emas pertamanya untuk kejuaraan dunia dan olimpiade karena itu dua-duanya medali yang belum dia menangkan. Secara pribadi saya lebih mendukung LCW karena menurutku dia pemain berkelas dunia yang punya karakter dan attitude yang baik (Lin Dan di samping gaya permainannya yang oke, terkadang terkesan arogan, IMHO lho ya).

Sebuah mimpi yang menjadi kenyataan ketika saya bisa menyaksikan langsung secara live BCA Indonesia Open 2015 yang diadakan sejak 2 s.d. 7 Juni 2015. Sudah dari kapan saya memiliki cita-cita yang akhirnya setelah 18 tahun kesampaian juga, selalu merinding melihat dari tv gimana “gila” dan “sinting”nya supporter Indonesia, bahkan komentator luar negeri juga menyebut mereka supporter bulutangkis nomor 1 di dunia. Bahkan pemain asing betah untuk kembali karena merasa seperti dihargai dan disambut seperti di rumah sendiri. Saya merinding dan kagum merasakan langsung teriakan gila para supporter yang mendukung habis-habisan para pemain. Salute for Indonesian supporters! 

Berikut foto-foto BIO 2015 (ada yang diblur demi menjaga privacy :p)

Suasana di luar lapangan! :)

Supporter Indonesia emang paling "gila"!

Friday, November 15, 2013

Live Your Life To The Fullest

Senin, 4 November 2013

Kemarin kami yang terdiri dari aku dan teman-teman gereja pergi melayat salah satu jemaat kami yang mamanya sudah dipanggil Tuhan. Aku agak sedih karena belum sempat menjenguk mamanya ketika dirawat di rs, dan ternyata aku denger beliau sudah dipanggil Tuhan. Kami datang untuk mengadakan ibadah penghiburan bagi mereka. Kami menaikkan pujian dan sejenak di dalam pikiranku lagi-lagi merenungkan banyak hal.

Pendeta kami (Pak Ong) menyampaikan Firman yang seperti biasa ada di ibadah orang meninggal, dari debu akan kembali menjadi debu. Seingatku, hanya ada 2 kebaktian penghiburan Kristen yang pernah aku ikuti, yang pertama saat Ibu Lim (KepSek SD) meninggal saat aku masih SMP dan saat suami dari ibu Titiek (Guru Matematika SMA) meninggal. Jadi sudah lama sekali aku tidak mengikuti ibadah secara Kristen. Keluarga besar kami masih menganut kepercayaan Kong Hu Chu, jadi ritual keagamaan pada saat ada yang meninggal sangat jauh berbeda dengan ritual Kristen.

Entah mengapa kemarin aku terpikir beberapa hal, meninggal secara Kristen ‘seolah-olah’ bahagia dan tanpa beban, karena dikatakan bahwa hidup di dunia memang hanya sementara, toh inti dari perjuangan orang-orang yang mengaku dirinya seorang ‘Kristen’ adalah kekekalan itu sendiri, di mana rohnya akhirnya bertemu dengan Allah Bapa dalam kemuliaan di Kerajaan Surga.

Sepertinya menarik sekali apa yang ditawarkan Tuhan, percaya kepadaNya dan taat mengerjakan panggilanNya, kita seperti sedang berada dalam sebuah perlombaan yang ujungnya akan mendapatkan ‘mahkota kekal’. Kesusahan di dunia tentu tidak sebanding dengan apa yang ditawarkan kelak jika kita didapatiNya setia. Syukur kepadaNya karena Dia boleh memanggilku menjadi seorang yang boleh menerima Yesus sebagai satu-satunya Juruslamat dalam hidupku.

Kembali ke topik awal, sebenarnya mama jemaat adalah orang yang belum percaya, namun dalam masa-masa perawatan di rs, beliau sempat menangis jika dinyanyikan lagu rohani dan didoakan. Oleh karena itu, anak-anaknya memutuskan untuk menguburkan mamanya secara Kristen. Gereja kami pun mengadakan ibadah penghiburan untuk mama jemaat.

Sekilas aku terpikir bagaimana dengan orang tuaku yang hingga detik ini belum percaya, namun aku melihat Tuhan sedang bekerja dalam hidup mereka, syukurlah mereka bisa melihat Tuhan sungguh hidup dalam kehidupan ketiga anaknya.

Friday, June 7, 2013

About Me


Seorang wanita 'biasa' yang berjuang untuk terus dan terus menyenangkan hatiNya.  
Perlahan tapi pasti telah menjadi seorang wanita 'luar biasa'  karena anugrahNya.
Blog ini dibuat untuk menyalurkan hobi menulis diary yang sudah lama tidak pernah dilakukan, blog ini berisi pengalaman sehari-hari yang boleh saya lewati bersama dengan Tuhan dan kalian, momen-momen yang tidak akan terulang, dan lain-lain.
Ketika saya letih dan melihat isi blog ini, saya menyadari bagaimana anugrahNya telah membuat saya berani melangkah dan bertahan hingga pada detik ini. 
Semoga blog ini dapat menjadi berkat untuk kita semua.
God is good all the time ^^