| WaLkin' With You...
 
 
 
Copyright © WaLkin' With You...
Design by Dzignine
Friday, January 22, 2016

DaeHan MinGuk ManSe

Jumpa lagi denganku! Sesuai janji kemarin di posting sebelumnya mengenai The Return Of Superman, aku akan membahas sifat dan karakter dari masing-masing si triplet. So, here we go!



Nah, mari kita bahas satu per satu dari si triplet dan siapa yang menjadi favoritku, hehe.. the first one is Song Dae Han, jika kalian cukup sering menonton, ada cukup banyak julukan untuk si sulung ini; Daehoney (mungkin karena dia manis?), Dae Han the reliable one (karena dia emang benar-benar sosok hyung yang bisa diandalkan), Dae Han dad’s boy (why? Makin sering menonton acara ini, kamu akan setuju denganku bahwa dia memang benar-benar mencintai sang ayah alias si appa-bahasa Korea untuk ayah xD).

Dae Han.. Menurutku dia sulung yang sangat sangat bisa diandalkan, bahkan ketika di dalam kandungan, dia berada di paling bawah dan menopang kedua adiknya, Min Guk dan Man Se. Appa juga bercerita hingga usia 1 tahun, mereka (suami dan istri) begitu sibuk mengurus kedua adiknya; Min Guk karena menderita severe atopy dan Man Se yang begitu kecil saat dilahirkan (hanya 1,7 kg). Terkadang Il Kook merasa bersalah karena tidak memberikan kasih sayang yang berlimpah kepadanya. Oleh karena itu, orang tua mereka berusaha untuk mengajari agar kedua adiknya menghormati dia; dimulai dari hal yang sederhana, dengan memanggil hyung misalnya.


Pertama, menurut pendapat pribadiku ketika menonton acara ini, Dae Han sungguh-sungguh sosok yang sangat dewasa bahkan mungkin terlampau dewasa untuk anak kecil seusia dia. Ada 2 episode dimana aku menyaksikan bahwa dia dengan susah payah menyeret tas ayahnya karena dia mungkin merasa takut tasnya akan hilang sekaligus terbeban sebagai anak pertama untuk menjaga dengan baik tas ayahnya. Jujur aku takjub melihat episode ini, lebih ke “gak abis pikir” kok bisa-bisanya dia berpikiran untuk melakukan hal itu sementara kedua adiknya sudah asik entah berbuat apa (Episode 37 dan 38). Ada beberapa episode dimana dia sebenarnya sudah diizinkan appa untuk menyantap makanannya duluan, namun begitu sayangnya dengan dongsengnya, dia rela untuk membiarkan mereka mencicipinya terlebih dahulu dan kalau kalian sering memperhatikan, dia selalu (bahkan rela) menjilati sisa makanan dari sendok yang sudah diberikan kepada orang lain.

Kedua, dia benar-benar memberikan contoh dan teladan yang baik bagi kedua adiknya. Ada episode dimana mereka pergi melakukan vaksinasi dan menunggu giliran untuk disuntik, dasarnya si Dae Han emang plegmatis (dimana dia terlalu cuek dan suka lupa dengan kejadian sekitarnya), dengan polos dan tidak paham kondisinya (kedua adiknya sedang menangis sekeras-kerasnya karena enggan disuntik) dia masuk, duduk di depan dokter, dan cuss.. dia disuntik tanpa menangis (well, no crying at all..) Well, ini adalah bagian dimana aku juga terkejut, kok bisa anak sekecil ini tidak menangis? Sekilas mencoba menempatkan diri sebagai Dae Han, sepertinya dia melihat bahwa sang appa sedang sibuk menenangkan kedua adiknya yang rewel sehabis disuntik, akhirnya dia memberanikan diri untuk maju dan paling enggak dapat meringankan beban si appa yang cukup stres saat itu. Amazing! (Episode 50).

Ketiga, dia adalah sosok hyung yang benar-benar baik dan bisa diandalkan. Bahkan dari dari usia 27 bulan, dia sudah dapat memimpin adik-adiknya ketika bermain, untuk tidak menyentuh yang memang bukan mainan (ketika Man Se usil memainkan remote AC yang menempel di dinding: Episode 34). Ketika kamu menyaksikan beberapa episode, ada beberapa peristiwa yang syukurnya direkam dengan baik oleh cameraman, dimana dia berusaha untuk melindungi dongsengnya (Min Guk dan Man Se) dari beberapa hal (ketika ayah mempersiapkan diri untuk perlombaan triathlon; appa yang membiasakan agar anak-anak tidak takut di dalam air, berenang bersama triplet sekaligus; saat itu kamera menangkap bahwa Dae Han meletakkan tangannya di belakang punggung Man Se untuk menopangnya.. how cute.. Episode 82). Ada juga kejadian di episode awal, ketika Dae Han menegur Man Se untuk diam ketika sang ayah berbicara dengan mencubit sedikit saja tangan Man Se (Episode 54). Ada juga episode 50 ketika Man Se makan mie instan dengan udang dan menyisakan 1 mie yang panjang, Dae Han membantu dengan mengangkat mie tersebut untuk memastikan bahwa Man Se memakannya hingga habis. Episode 60 dimana dia membagi buburnya kepada Min Guk ketika Min Guk terlalu asik bernyanyi sehingga papanya mengira dia tidak menginginkan sarapannya. So sweet!

Keempat, Dae Han memang benar-benar cocok lahir sebagai si sulung dengan sifat yang agak kaku karena dia taat atau mungkin sangat taat terhadap peraturan dan mencintai kebersihan. Appa pun sering menyebutnya dengan julukan FM (Field Manual) yang berarti adalah total rule follower. Ada episode dimana dia sedang makan dan minta dibersihkan mulutnya oleh appa, kemudian Man Se celetuk kepadanya bahwa tidak apa ketika makan menjadi kotor karena memang itu sudah sewajarnya. Ada juga episode 68, ketika hendak sarapan, Dae Han menyadari bahwa bangku makan yang ditempatinya adalah milik Min Guk karena ada baretan di mejanya (What???). 

Episode 110, dimana ayahnya mengetes kepribadian mereka dengan mengirimkan robot yang konon hanya bisa dilihat oleh anak-anak; appa membuat setting-an seolah-olah sedang dihukum, menyuruhnya untuk masuk ke kamar dan mengambil bangku, serta duduk menghadap tembok, bahkan ketika robotnya berjalan hingga ke sampingnya untuk mengajaknya bermain, dia hanya menggerakan ujung matanya tanpa menyentuh atau bahkan bermain dengan si robot (he is totally a FM!). Jujur aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat keunikan dia yang ini. Sebenarnya masih banyak kejadian dan sifat Dae Han yang lain, namun aku memutuskan untuk fokus pada empat sifat utamanya yang hampir selalu muncul di tiap episodenya. By the way, he is actually my second favourite after Min Guk ^^
Wednesday, January 20, 2016

New World: The Return Of Superman!

Hai semuanya.. Happy New Year 2016! Sudah lama ga menulis, lagi ada banyak hal di kepala yang mau ditulis (pembicaraan dari kapan tahun :p). Akhirnya memulai kembali menulis dengan topik yang lagi hangat-hangatnya.. Selamat membaca! :)

Akhir-akhir ini aku sedang keranjingan satu variety show Korea yang memang lagi nge-hits banget di Korea. Bagi orang-orang yang mengenalku, seharusnya mereka tahu program apa yang dimaksud. Iyap, The Return of Superman (TROS), reality-variety show Korea yang menyajikan kehidupan nyata dimana para ayah yang sebagian besar berprofesi sebagai entertainer di Korea berjuang selama 48 jam untuk menjaga anak-anak mereka tanpa dibantu oleh si ibu.
The Return Of Superman's Cast before Lee Dong Gook Joins
Mengapa acara tersebut menarik bagiku? 

Pertama, karena setiap kita tentu tahu dan setuju bahwa merawat dan mendidik anak bukanlah perkara yang mudah. Ada begitu banyak perjuangan dan pengorbanan dari segi waktu, tenaga, dan uang yang dikeluarkan oleh orang tua - terutama Ibu. Acara ini memiliki ide anti mainstream karena berani menawarkan acara mengasuh anak yang wajib dilakukan oleh ayah tanpa campur tangan ibunya (sungguh menarik :p). 

Kedua, lokasi syuting di rumah dibuat senyaman mungkin dengan menggunakan rumah kecil atau tenda dimana para VJ (cameraman) sibuk bersembunyi sembari merekam dan mencari angle terbaik untuk mengambil gambar. Hal ini dilakukan agar anak-anak tidak merasa takut atau kaget sehingga mereka dapat bermain dan bergerak seperti yang biasa mereka lakukan sehari-hari. Jika kalian memperhatikan dengan seksama, kalian akan menyadari bahwa para kru bekerja dengan sangat profesional sehingga tidak mengganggu keseharian mereka. Tentu akan lain ceritanya jika mereka melakukan kegiatan outdoor.

Ketiga, acara ini bukan reality show dengan ide murahan karena dirancang secara khusus untuk mendekatkan para ayah dengan anak-anak mereka. Kita semua tentu tahu bahwa jawaban para anak ketika ditanya lebih dekat dengan ayah atau ibu, hampir sebagian besar mereka akan menjawab dengan ibu. Memang tidak dapat dipungkiri bahwa sang ibulah yang berperan sangat besar di dalam tumbuh kembang sang anak, sedangkan ayah biasanya sibuk mencari nafkah. Hal inilah yang membuat sang produser membuat acara ini; dimana para ayah yang disebut sebagai Superman dituntut agar dapat menyelesaikan misi yang diberikan oleh masing-masing istri dan bermain dengan anak-anak mereka. Jangan kaget ketika awal-awal melihat para ayah kesulitan dan akhirnya sepakat mengakui dan berterima kasih kepada para ibu, serta tidak ragu untuk memuji bahwa mereka telah melakukan yang terbaik dalam mendidik anak-anak mereka.

Terakhir namun tidak kalah penting, acara ini memberikan pelajaran dan cara yang benar (baik belum tentu benar kan :p) bagaimana merawat, memuji, menegur, bahkan mendidik anak-anak jika mereka berbuat salah.
Para ayah yang menjadi pemeran TROS awalnya tidak bersedia tampil karena enggan berbagi dengan masyarakat luas mengenai kehidupan pribadi mereka. Namun setelah dibujuk sedemikian rupa oleh prosedur acara, mereka bersedia tampil di TV dengan risiko mereka harus siap berbagi kehidupan pribadi mereka dengan para penonton.

Nah.. Berbicara mengenai TROS, aku mau berbagi sedikit bagaimana pada akhirnya aku bisa jatuh cinta setengah mati sama acara ini. Awal mula ceritanya sungguh sederhana, aku biasanya membaca berita seputar Kpop dari Koreanindo, Allkpop, dan Soompi. Ketika aku membaca Soompi, aku tertarik untuk meng-klik dan membaca satu judul artikel yang menyebutkan bahwa Song Il Kook dipuji oleh psikolog anak karena kepiawaiannya dalam mendidik anak (silahkan di-klik jika penasaran :p). Dalam hatiku terpikir, “emang kayak gimana dia ngedidik anak sampai dipuji psikolog anak begitu piawai?”. Dimulai dari rasa penasaran yang sangat sederhana dan kecintaanku pada dunia anak-anak, aku pun meng-klik dan mulai membaca artikel tersebut, disebutkan nama acaranya adalah The Return Of Superman, sepertinya menarik juga (begitu pikirku pada awalnya).


Rasa penasaranku pun semakin berlanjut, mulailah aku buka Youtube dan mencari judul acara tersebut, ternyata banyak dan mudah ditemukan, bahkan sudah disediakan secara cuma-cuma oleh KBSWorld TV, salah satu dari tiga stasiun televisi yang terkenal di Korea (bagi yang sudah sering mondar-mandir di dunia Kpop pasti tidak asing dengan 2 stasiun lainnya). Kemudahan yang sudah disediakan secara cuma-cuma ini pun tidak aku sia-siakan, aku mulai mencari tentang Song Il Kook, ternyata anaknya triplet, alias kembar tiga. 
Wah, kembar tiga, makin besarlah rasa penasaran ini, aku sampai bela-belain googling cari episode perdana triplet.

Episode 34 adalah episode perdana di mana Song Il Kook dan triplet muncul, pertama aku mencoba untuk menonton anak-anak yang lain, namun dasar emang uda naksir, bawaannya uda langsung skip-skip hingga aku menemukan bagian triplet. Aku rasa salah satu faktor yang paling mendukung sehingga aku begitu cepat jatuh cinta karena pada dasarnya aku suka anak kecil. 

Dunia mereka yang begitu sederhana membuatku begitu tertarik. Song Il Kook’s triplet itu bernama Dae Han, Min Guk, dan Man Se. Pertama kali melihat mereka aku sudah punya feeling bahwa memang pantas untuk diikuti karena tingkah mereka yang menggemaskan :p 

Berikut adalah denah apartemen appa yang digunakan sebagai lokasi syuting, ternyata apartemen di Korea itu besar, tidak seperti di Jakarta yang cenderung sempit dan dikit kamarnya.

Mengapa si triplet dan bukan yang lain?
Tuesday, August 18, 2015

Badminton -- Dirgahayu Indonesia ke-70 ??

Akhirnya menulis lagi setelah "berabad-abad" vakum menulis, agak lebay karena menurutku termasuk waktu yang sangat lama menunda untuk menulis dengan segudang pemikiran dan ide-ide yang berkecamuk di kepala, hehe.. saya ragu dalam memilih ide yang ditulis, ada banyak hal, namun hati ini tergerak untuk menulis mengenai Dirgahayu RI ke-70 dari sisi olahraga yang saya cintai: badminton.

Kalo ditanya apa saya bisa bermain badminton alias bulutangkis? Jawabannya bisa tapi jauh banget dari kata jago/mahir. Saya lebih bisa bermain volley, hehe.. masih teringat ketika dulu masih bentrok dengan jadwal les bahasa Inggris, saya terpaksa ambil ekskul badminton, di sela-sela waktu luang, saya membeli bola volley dan belajar dengan harapan begitu masuk bisa langsung bermain sebagai tim inti. Sepertinya cerita tentang volley harus dipotong dulu, hehe.

Bagaimana saya bisa mencintai dunia bulutangkis? My super dad is the answer :)
Papa saya orang pertama yang mengenalkanku pada dunia ini, saya inget banget bahkan di tengah-tengah sisa kerusuhan Mei 1998, kami masih sempat menonton bulutangkis (saat itu Mia Audina yang bermain untuk turnamen yang saya juga lupa, mungkinkah Thomas dan Uber Cup? ingatan sudah agak blur :p) di dalam kamar Hotel Borobudur, hehe.
Sampai detik ini, beliau masih bermain bulutangkis bersama rekan-rekan setiap hari Rabu dan Sabtu. 

Berapa besar kecintaanku pada dunia bulutangkis? sangaaaat besar.. Mungkin kalau saya tidak berkarier sebagai seorang karyawan, saya akan menjadi atlet, hehe.. Begitu besarnya hingga saya bersyukur siaran tv kabel di rumah ada Star Sports yang hampir konsisten menayangkan turnamen super series di seluruh dunia. Namun sayang, per Juni 2015, tv kabelku tidak menyiarkan Star Sports dikarenakan masih belum terdapat kesepakatan kerja sama (bisa jadi karena bulutangkis semakin naik pamor? Hm.. bisa jadi :p)

Pemain favorit? Jawabannya adalah banyak dan tergantung :)
Saya cukup sering mengikuti jejak pemain yang saya rasa cukup menarik untuk diikuti. Kalo kalian pernah denger Lee Yong Dae (pebultang asal KorSel, harusnya sih uda ga asing karena ke-charming-annya dan mukanya yang sedap dipandang mata, hehe); saya uda cukup tahu mengenai dia, bukan karena ketampanannya, tapi karena staminanya yang patut diacungi jempol. Saya sudah mulai jatuh cinta padanya sejak dia belum terkenal seperti sekarang, jatuh cinta karena dia sanggup bermain di ganda putra dan ganda campuran sekaligus, serta konsisten dalam merebut juara turnamen (we'll skip this one).

Kalau pemain Tiongkok, semua orang pasti tidak asing dengan Super Dan aka Lin Dan, sang pemain yang hingga detik ini sudah mengoleksi 5 gelar juara dunia dan juara dari seluruh turnamen sudah pernah dia kantongi (emang "gila" dia ini). Kepiawaiannya membuatku kadang ga habis pikir itu ide serangan muncul dari mana. Menariknya, he's not my favourite athlete.

Lee Chong Wei, pemain bulutangkis dari era Taufik Hidayat, Peter Gade (2 ini sudah pensiun), dan Lin Dan (masih aktif namun sudah ketutup Chen Long) yang masih konsisten bermain hingga sekarang. Sungguh miris melihat dia dihukum tidak boleh bertanding karena tersangkut kasus doping pada BWF 2014. Menurutku, seorang pemain kelas dunia tidak mungkin melakukan itu, dan benar saja, obat yang dilarang BWF tersebut tidak sengaja dimakan ketika LCW menjalani perawatan untuk cideranya.

Pemain Indonesia? Jujur untuk sektor putri, menurutku masih banyak sekali PE-ER yang harus diperbaiki dan dikerjakan oleh mereka. Selalu gemessss melihat mereka bermain seperti orang berbeban berat dan kurang eager (kadang terlihat lesu menggapai bola). Beda sekali dengan tim Jepang yang menurutku ulet dan tekun luar biasa.

Salah satu fakta yang menarik bagaimana tim Jepang pria berhasil membawa pulang piala Thomas 2014 dengan skor 3-2 setelah melawan tim Malaysia. Masih berbekas dalam ingatan bagaimana pertandingan tersebut sangat berkelas karena saya bisa ngerasain bagaimana ulet dan pantang menyerahnya seluruh tim Jepang. Usut punya usut, ternyata pemain Jepang tidak menjadikan atlet sebagai profesi utama karena belum menjanjikan, jadi paginya mereka kerja kantoran, sore ke malam baru mereka berlatih mempersiapkan turnamen. Harapannya setelah menang, olahraga bultang makin dikenal dan dianggap sebagai olahraga yang berkelas.

Dari sektor putri menarik karena sudah mulai ada nama baru, seperti Carolina Marin (Spanyol) dan Saina Nehwal (India). Jujur saya kurang suka sama teriakan Marin yang kadang terdengar “noisy” banget, namun harus saya akui semangat juangnya sungguh amat tinggi, dan pukulannya berisi (ada tenaga), jadi saat diterima musuh juga bukan sebuah pukulan yang mudah dikembalikan.

Permainan yang selalu saya tunggu, dari dulu hingga sekarang adalah Lin Dan vs Lee Chong Wei. Hampir seluruh penggemar tahu betapa pertandingan kelas dunia ini sangat sangat layak untuk ditunggu. Permainan kelas dunia dengan teknik dan mental kelas dunia, jujur saya sangat berharap agar LCW bisa mendapatkan emas pertamanya untuk kejuaraan dunia dan olimpiade karena itu dua-duanya medali yang belum dia menangkan. Secara pribadi saya lebih mendukung LCW karena menurutku dia pemain berkelas dunia yang punya karakter dan attitude yang baik (Lin Dan di samping gaya permainannya yang oke, terkadang terkesan arogan, IMHO lho ya).

Sebuah mimpi yang menjadi kenyataan ketika saya bisa menyaksikan langsung secara live BCA Indonesia Open 2015 yang diadakan sejak 2 s.d. 7 Juni 2015. Sudah dari kapan saya memiliki cita-cita yang akhirnya setelah 18 tahun kesampaian juga, selalu merinding melihat dari tv gimana “gila” dan “sinting”nya supporter Indonesia, bahkan komentator luar negeri juga menyebut mereka supporter bulutangkis nomor 1 di dunia. Bahkan pemain asing betah untuk kembali karena merasa seperti dihargai dan disambut seperti di rumah sendiri. Saya merinding dan kagum merasakan langsung teriakan gila para supporter yang mendukung habis-habisan para pemain. Salute for Indonesian supporters! 

Berikut foto-foto BIO 2015 (ada yang diblur demi menjaga privacy :p)

Suasana di luar lapangan! :)

Supporter Indonesia emang paling "gila"!